keris
Asal Muasal Keris
Dahulu kala dibumi ini ada 2 jenis makhluk yang mengusai. Pertama adalah bangsa manusia dan lainnya adalah bangsa jin berbentuk raksasa. Ceritera ini bersetting pada masa itu.Lokasi pusat kerajaan manusia kira-kira saat ini adalah wilayah pulau jawa, yang pada dahulu kala pulai ini masih satu kesatuan dengan pulau sumatera, kalimantan, bali, lombok, dan sulawesi.
Sedangkan lokasi kerajaan jin Raksasa saat ini kira-kira adalah negara Amerika yang masih nyambung dengan pulau Eropa.
Kerajaan manusia sangat subur dan makmur. Pemimpinnya adalah seorang Raja yang adil, bijaksana serta berwibawa. Saat itu Hukum belum ada, karena masyarakatnya hidup dengan aman,damai, tentram dan sentosa. Tetapi rakyat mempunyai seni dan budaya yang sangat tinggi, sehingga keteraturan dan ketaatan kepada penguasa, kepada sesama makhluk, serta kepada alam sangat seimbang.
Kerajaan raksasa adalah kerajaan besar dan menguasai hampir seluruh daratan di dunia. Tetapi disana tidak ada peraturan, tatakrama, seni, apalagi budaya. Sehingga rakyatnya hidup dengan kekerasan serta keangkara murkaan.
Suatu waktu Raja Raksasa yang terkenal amat sakti mandraguna serta sangat kejam itu diceritakan bahwa di seberang ada daerah yang sangat subur dan makmur. Mendengar ceritera ini sang raja lalu mengutus patih dan beberapa panglimanya untuk menemui penguasa Kerajaan Manusia untuk tunduk dan patuh kepada Kerajaan Raksasa.
Tidak berapa lama utusan tersebut kembali dengan tangan hampa, dan Raja Raksasa sangat marah lalu mempersiapkan bala tentaranya untuk menyerang Kerajaan Manusia. Mengetahui hal ini, paniklah Kerajaan Manusia. Mereka memang mempunyai bala tentara, tetapi mereka tidak terbiasa berperang dan bingung bagaimana caranya menghadapi serangan bala tentara raksasa yang terkenal sangat sakti dan kejam itu.
Akhirnya pada suatu malam, sang Raja Manusia bermimpi melihat sebuah alat yang berkilauan. Dalam mimpi tersebut terdengar suara bahwa hanya dengan alat tersebutlah Raja Raksasa dapat dibunuh.
Keesokan harinya sang raja mengumpulan para petinggi dan sesepuh keraton serta mengumpulkan para ahli agama juga para ahli senjata. Diceritakanlah mimpi pada malam itu, dan para hadirin sangat bingung menebak kira-kira sejenis apakah senjata tersebut. Karena pada masa itu belum ada senjata yang bentuknya seperti itu.
Beberapa sesepuh dan ahli fikir serta tafsir akhirnya menanyakan bentuk terperinci dan kemungkinan bahan pembuatannya, setelah dirasa cukup lalu dikumpulkan lah para ahli senjata dari pelosok negeri untuk mewujudkan senjata yang dimimpikan oleh raja mereka tersebut. Tetapi mereka ternyata tidak ada yang sanggup untuk membuatnya. Sehingga akhirnya datang seorang pertapa yang menyanggupi membuat alat tersebut dengan bahan-bahan dari simpenan yang didapat selama bertapa.
Akhirnya Raja Raksasa sampai di daerah perbatasan dan mulai memporak-porandakan desa-desa yang dilaluinya. Mereka merampok, dan membunuh dengan kejam para makhluk manusia yang ditemuinya. Hampir-hampir tidak ada sisa. Mendengar hal ini, lalu sang Raja Manusia mengutus Patih dan para Panglima Perangnya untuk membawa prajurit menghadang diluar perbatasan. Maka berangkatlah pasukan tersebut. Tetapi, apalah daya pasukan perang manusia dalam menghadapi pasukan raksasa. Tidak lama mereka berperang, banyak prajurit manusia yang gugur dalam peperangan hebat tersebut.
Raja sangat galau dan iba hatinya mendengar banyak rakyatnya yang gugur. Namun tidak berapa lama, pertapa yang membuat senjata aneh tersebut akhirnya datang dengan sebilah senjata. Raja sangat senang dan memegang senjata tersebut, tetapi hatinya masih galau, apakah senjata sekecil itu bisa membunuh Raja Raksasa yg besar, kejam, dan sakti mandraguna ?
Demi membela tanah air dan rakyatnya, akhirnya sang raja menyelipkan senjata tersebut diperut depan, dengan harapan agar lebih gampang mengambilnya disaat terdesak. Lalu beliaupun menyusul para tentaranya mengendarai kuda. Belum jauh beliau memacu kudanya, sang raja membalikkan kuda kembali kekerajaan. Para petinggi Keraton bingung kenapa Sang Raja kembali secepat itu. Akhirnya setelah turun dari kuda si raja menceriterakan kenapa dia kembali.
Ternyata, saat itu senjata belum ada tempatnya. Sehingga sang raja langsung menyelipkan diperut dan langsung menaiki kuda. Saat pertama rasanya seperti dingin-dingin dan geli-geli gimana gituh. Tetapi begitu memacu kuda, serasa ada yg perih dibagian terlarang paduka raja. Ternyata, kulit anu si raja teriris oleh tajamnya senjata tersebut. Oleh karena itu, diperintahkanlah pertapa itu untuk membuatkan semacam warangka/wadah/tempat untuk menampung senjata tersebut agar tidak melukai pemiliknya sendiri.
Setelah wadah/tempat/warangkanya jadi, maka sang raja kembali berangkat menuju medan pertempuran. Kali ini, untuk berjaga-jaga agar anu nya tidak teriris kembali, maka senjata tersebut ditaruh dipinggang belakang. Ternyata saat memacu kuda sekencang-kencangnya, senjata tersebut tidak menjadi beban karena posisinya sangat pas. Akhirnya sampailah sang raja manusia dimedan pertempuran. Panglima dan Prajuritnya sudah banyak yang gugur, sedangkan Patihnya terlihat sudah agak kepayahan karena sudah beberapa hari berusaha untuk menandingi raja raksasa.
Melihat hal ini, raja manusia menyuruh patih menarik pasukannya untuk beristirahat. Sedangkan dia sendiri beserta pasukan yang baru datang maju menggantikan pasukan lama. Akhirnya sang raja manusia berhadapan langsung dengan raja raksasa. Beberapa lama mereka bertempur mengeluarkan kesaktian masing-masing, ternyata benar kata rumor yang mengatakan bahwa raja raksasa itu sangat sakti mandraguna tidak mempan oleh senjata dan kesaktian apapun juga. Akhirnya pada suatu kesempatan, sang raja manusia mengeluarkan senjata barunya dari baling pinggangnya, lalu langsung menusukkannya ke tubuh raja raksasa. Raja Raksasa merasa jumawa dengan ilmu yang dimilikinya dan menerima tusukan tersebut dengan berlapang dada menganggap enteng. Siapa sangka, ternyata setelah menerima tusukan senjata tersebut si raja raksasa merasa tubuhnya kesakitan dan mengeluarkan darah yang sangat banyak. Sadarlah dia bahwa dirinya sudah terluka, tetapi penyesalannya sudah terlambat, karena dari keampuhan senjata baru buatan manusia tersebut, akhirnya sudah menghilangkan nyawanya. Para prajurit raksasa melihat hal tersebut ciut nyalinya, lalu mereka menyerah dan tunduk kepada raja manusia.
Raja Manusia sangat Arif dan Bijaksana, para tawanan perang tersebut disuruh kembali ke kerajaannya serta disuruh pula untuk mengganti perilaku mereka agar hidup rukun, aman, damai, dan sentosa. Setelah pasukan raksasa kembali, sang raja manusiapun menyuruh para prajuritnya untuk kembali kekerajaan. Rakyat mendengar kemenangan ini sangat gembira, disetiap perkampungan dan jalan yang dilewati mereka menyambut pahlawan bangsa dengan sorak-sorai kegembiraan serta kekaguman kepada raja mereka.
Sesampainya di kekerajaan, mereka disambut oleh rakyat dan petinggi keraton beserta anak dan isteri mereka. Dan Raja mengumpulkan para petinggi keraton beserta pertapa yang membuat senjata di keratonnya. Saat itu raja bersabda :
“Mulai saat ini senjata baru ini saya namakan KERIS, berasal dari kata Keri-Keri Sitik, hal ini dikarenakan seperti itulah rasanya pada saat pertama kali saya menyimpannya ditubuh saya bagian depan. Selain itu, bagi pertapa yang sudah membuat senjata ini, saya beri gelar MPU, berasal dari kata Memang Ampuh. Dan senjata ini harus diberikan warangka (wadah) agar tidak mengenai tubuh pemiliknya saat dibawa. Juga untuk seterusnya senjata ini harus ditaruh dibelakang dengan maksud agar tidak terlihat oleh musuh, juga bermaksud agar tidak mengganggu pemiliknya pada saat berkuda.”
Rakyatpun bersorak-sorai mendengar TITAH sang Raja. Maka, semenjak saat itulah kenapa senjata tersebut disebut KERIS, yang mempunyai WARANGKA, serta harus ditaruh dibelakang tubuh pemiliknya.
Demikian ceritera gotak-gatuk yang saya persembahkan. Ceritera ini tidak bermaksud untuk melecehkan seseorang / kaum / bangsa / suku / agama / ras. Ceritera ini hanya rekaan saya saja sebagai bahan hiburan. Semoga rekan sekalian bisa memaklumi apadanya. Ceritera ini sebenarnya sudah pernah saya muat pada blog lama saya di blogspot beberapa tahun yang lalu, tetapi tidak ada salahnya saya ulang kembali. Toh ceritera ini karangan saya sendiri dan bukan COPY-PASTE dari ceritera orang lain (sebenarnya INTI ceriteranya saya dapatkan dari sesepuh saya sendiri, yang saya utak-utik bahasa serta penyampaiannya agar dimengerti oleh rekan-rekan yang non jawa). Atas perhatian dan waktu yang diberikan membaca ceritera ini saya ucapkan banyak terimakasih. Semoga commentnya bisa banyak (upst, mimpi dikit boleh kan).
PS : gambar-gambar saya ambil dari sini.
.::he509x™::.

13 Responses to “keris”
By
The Sandalian on Dec 19, 2007 | Reply
Berarti iki termasuk asal mula orang sunat yo Mas?
By
de on Dec 19, 2007 | Reply
keri-keri sitik :))
By
Epat on Dec 19, 2007 | Reply
“keris” mu mesti cilik!
Hahahaha….
By
mikow on Dec 19, 2007 | Reply
aku punya keris dirumah, taro di halaman aja
By
MaNongAn on Dec 19, 2007 | Reply
.::he509x™::.
By
evi on Dec 19, 2007 | Reply
sodaraku punya 2 keris, katanya bisa omong-omongan. bener ga sih…? aku jd takut kalo kerumahnya, sementara yg punya jg udh meninggal.
eh Mas, soto tegal yg enak tuh di Talang. judulnya ’sedap malam’ uenakkk loh….lebih enak dr yg di pasar senggol, blkg pos polisi itu.
By
MaNongAn on Dec 19, 2007 | Reply
.::he509x™::.
By
Ndoro Seten on Dec 19, 2007 | Reply
Keris didu keris malah dadine keri yo?
Iki mirip crito asal-usule Kaliurang…..
Mesti kakehan nonton situs Ki Joko Bodo neng tivi
Ning elok imanjinasine Dab
Siiip
By
MaNongAn on Dec 19, 2007 | Reply
.::he509x™::.
By
ekowanz on Dec 19, 2007 | Reply
asyyem keri-keri sitik ik
tak kiro serius 
By
MaNongAn on Dec 20, 2007 | Reply
.::he509x™::.
By
Hedi on Dec 20, 2007 | Reply
gara2 keris, orang suka salah mikir. masak keris dimandiin, mbok yang punya aja yang mandi
By
MaNongAn on Dec 27, 2007 | Reply