Jeng Semawis I

Written on 9 - February - 2008 – 3:26:47 | by MaNongAn |

Jeng-Jeng Semarang Wayah’e Gerimis

Team
Gambar di comot dari Goen

Perjalanan
Aduh kok sepi banget, yg laen pada kemana nih?
Katanya pada mo ngumpul jam 3 sore, sekarang udah lebih tapi blom ada yg dateng juga.

Dengan rasa gelisah, Mr. Abud lalu mengeluarkan PDA nya dan posting ke millis.
Gw udah di terminal tapi yang laen belum keliatan, apa gw salah jam?

Tak lama kemudian ada balasan dari Menpenak :
sepertinya anda harus meneliti kembali postingan Mr. Menkopul, jelas-jelas disana tertulis jam 15:00 CA.”
(CA yg di maksud adalah WICA = Waktu Indonesia Bagian CahAndong)

Selanjutnya, susul-menyusul balesan dari rekan-rekan lainnya.

Tidak disangka, sekitar jam 4 sore tumpahlan air dari atas langit disertai angin kencang beserta kilat meliuk-liuk bagaikan sang naga sedang mencari mangsa.

Saya sendiri sempat ragu untuk berangkat, tetapi sekitar jam 5 sore akhirnya cuaca cerah kembali. Kemudian saya menelpon Menkopul menanyakan kepastian keberangkatan.
Me : “Udah pada dimana nih?
Menkopul : “OTW (on The Way) ke terminal Kang
Me : “OK, aku beresin berkas-berkas kerjaan dulu, terus langsung meluncur ke TKP (Tempat kejadian Perkara)

Setelah berkas sudah rapih lalu saya sempatkan mandi, karena seharian hawanya gerah sekali. Kemudian saya telpon Taxi untuk minta dijemput. Sekitar 5 menit menunggu akhirnya Taxi pun datang, dan saya langsung berangkat ke terminal jombor. Sekitar JAKAL (Jalan Kaliurang) Sultan nDoyok menelpon lagi.
Mat nDoyok : “wes tekan ngendi kang?” (sudah sampai mana Kang?)
Me : “wes tekan jakal, cah-cah wes podo ngelumpuk?” (sudah sampai jakal, temen-temen sudah pada ngumpul?)
Mat nDoyok : “iki cah-cah wes ngelumpuk. Bus’e wes meh mangkat” (ini temen-temen sudah ngumpul. Bisnya sudah mau berangkat)
Me : “Kongkon ngenteni disik, dhiluk engkas aku tekan” (suruh nunggu dulu, sebentar lagi saya sampai)
Mat nDoyok : “OK Kang, mengko supir’e tak kongkon ngenteni.” (OK Kang, nanti supirnya saya suruh nunggu)
Me : “posisi neng njhero terminal opo neng jobo?” (posisi ada di dalam terminal atau di luar ?)
Mat nDoyok : “Neng jobo Kang, neng pinggir dalan cedak pintu keluar.” (di luar Kang, di pinggir jalan dekat pintu keluar terminal)
Me : “OK, enteni disik” (OK, tunggu sebentar)

Keterangan : sudah menjadi Rahasia Umum, jika Mat nDoyok sebagai Sultan nDoyokarto Hadiningrat ini tidak bisa berbicara dalam bahasa Indonesia dengan lancar. Jadi saya memakai bahasa Jawa didalam percakapan kami tersebut.

Tak berapa lama sampailah saya diterminal, disana para Eblis sudah pada menunggu : “Mat nDoyok, Antokondo, Leksa, Pangsit, Abud, dan Goen“. Gak pake lama, lalu bus pun berangkat. Ternyata bus terakhir langsung Semarang sudah habis, jadi kami naik bus jurusan Magelang. Sekitar setengah jam kami sampai diterminal, lalu sambung bus jurusan Semarang. Ternyata parkirnya lama sekali, sekitar satu jam-an menunggu penumpang lain.

Susul menyusul pedagang asongan naik menawarkan barang dagangannya, ada yg sedikit memaksa tetapi sebagian besar tidak seperti itu. Yang menarik adalah para musisi jalanan, sambung menyambung tidak ada berentinya hingga setok uang receh yang kami bawa pun sampai habis. Dan hebatnya lagi, semua peralatan yang dipakai persis itu-itu juga.

Akhirnya sampai juga di kota Semarang. Sayangnya kok hujan deres yah? *garuk²*
Mat nDoyok koordinasi dengan Bang Vian mau jemput dimana. Kamipun turun di POM Bensin (ma’af lupa namanya, antara Gedung Graha Pena dan Gombel). Sambil berteduh dibawah bengkel tambal ban yg tutup, kami menunggu jemputan. Tidak berapa lama Bang Vian datang membawa motor dan mengajak kami Dinner di warung Mie Ayam.

Setelah perut kami terisi, kami jalan kaki menuju Stand Plat (bahasa indonesianya apa yah?). Tak lama kemudian datang serombongan serigala jeruk Loenpia (sebutan warga Loenpia yg berjenis kelamin Pria/setengahnya) menjemput kami. Lalu kami diboncengi menuju belakang GOMBEL (Fanny Coutage). Disana kami berhenti dirumahnya Kang Didut.

Disana ada beberapa rekan Jeruk Loenpia lain yang sudah menunggu. Setelah basa-basi perkenalan dan saling mengucapkan salam, kamipun ngobrol tak tentu arah. Sekitar jam 12 malam rekan-rekan lain sudah pada tidur, yang tersisa menemani saya ngobrol sampai subuh adalah : Bang Vian, Bang Yudhi dan rekan andong si Leksa.

Kami membahas banyak permasalahan dan pengalaman-pengalaman pribadi kami. Poin terpenting pembahasan permasalahannya kami itu adalah :

  1. Tanggung Jawab isi Penulisan. Hal ini dikarenakan ada seorang Murid SD yang mendapatkan tugas mencari bahan tentang “Bhinneka Tunggal Ika” yang dilansir oleh harian “Suara Merdeka”. Kasusnya adalah, anak tersebut mengkopi tulisan dari internet mengenai Bhinneka Tunggal Ika yang ternyata dipelesetkan.
  2. Perjalanan Tim Betmen Loenpia diceritakan oleh Bang Vian yang mendapatkan gambar Pocong.
  3. Pertamakali Bang Yudhi menekuni bidang photographi.
  4. Penyebutan Jeruk (laki-laki) dan Apel (wanita) untuk warga Loenpia.
  5. Cerita millis Loenpia yang heboh ketimbang bLog warganya.
  6. dll

Sekitar setengah atau satu jam saya istirahat (tidur) dan kami bergantian mandi sambil menunggu kedatangan Mas Iman Brotoseno yang meluncur dari Ibukota “Jancukarta Ngadikere“. Ternyata ada kabar, Simanis Banjir Kanal Timur Kaligawe tidak bisa menjemput Mas Iman dikarenakan akses jalan keluar dari rumahnya menuju bandara terkepung banjir. Lalu Mbak Fany dan Kang Didut menelepon Mobil Rental untuk menjemput Mas Iman dari Bandara. Oh iya, semenjak kami datang hingga pagi hari itu cuaca agak tidak bersahabat alias turun hujan terus menerus.

“Pagoda Avalokitesvara Buddhagaya Watugong”
Setelah Mas Iman sampai, kami warga andong plus Bang Vian sebagai penunjuk jalan meluncur menuju sebuah Pagoda pemujaan Dewi Kwan Im di daerah Watu Gong (disini ditemukan sebuah batu yg mirip dengan Gong). Dinamakan juga “Pagoda Metta Karuna” yang berarti “Kasih Sayang”. Disana kami mengabadikan beberapa tempat dan patung. Sebelum itu kami sarapan di “Bubur Ayam Pak Brewok” sekitar kawasan UNDIP. Btw, mbak penjual rokok dibelakang kios Pak Brewok ternyata manis juga. Sempet megang tangannya sebentar sewaktu menyerahkan rokok kesaya sampai rokoknya jatuh. Tapi, saat menyerahkan rokok kedua kalinya sempet megang lagi (kali ini tidak pake jatuh lagi, mungkin sudah terbiasa dari pengalaman pertama tadi). Ternyata mbak satunya yg berjilbab dan sedang makan itu melihat, tapi cuma senyam-senyum ajah.

Dipintu masuk dekat Pos Penjagaan, terletak batu berbentuk mirip Gong, yang dipakai sebutan daerah tersebut (Watu Gong).

Memasuki area, ada Patung Dewi Kwan Im setinggi 5,10 meter dan Patung Panglima Weng Do. Disebelah kanannya ada Patung Budha dibawah Pohon Bodhi yang konon generasi asli pohon Bodhi dimana Sang Budha pernah bertapa dibawahnya. Pohon ini dibawa dan ditanam oleh “Bikku Narada Mahathera” dari Thailand pada tahun 1934.

Menuju Pagoda saya terkesima dengan tangga unik bergaya serta berasitektur China yang konon semua bahannya tersebut mengimpor langsung dari Negeri China. Hingga sampailah di Pagoda yang berdiameter 15×15 meter persegi itu. Disisi Luar, terdapat Patung Dewi Kwan Im dalam beberapa posisi/perwujudan menghadap kesegala penjuru mata angin. Disela melihat patung tersebut saya bertanya kepada bapak penjaga kuil apa maksud patung-patung yg ada disekeliling kuil utama. Lalu dengan antusiasnya bapak tersebut menerangkan satu persatu arti dari patung-patung tersebut secara singkat :

  1. Patung Dewi Kwan Im membawa Bunga dan Teratai :
    Bermakna, perjodohan. Tetapi berjodoh yg dimaksud disini dalam arti luas.
  2. Patung Dewi Kwan Im membawa seorang anak perempuan :
    Bermakna, menginginkan anak perempuan.
  3. Patung Panglima (Patung salah satu perwujudan Dewi Kwan Im?) :
    Bermakna, kepangkatan. Jika menginginkan jabatan, pangkat dan kewibawaan.
  4. Patung Dewi Kwan Im membawa Seorang anak laki-laki :
    Bermakna, menginginkan anak laki-laki.
  5. Patung Dewi Kwan Im Membawa Bunga….? :
    Bermakna, menginginkan panjang umur.

Pagoda Avalokitesvara
Gambar di ambil dari : Fiandigital

Pagoda tersebut berisi patung-patung Dewi Kwan Im yang bermakna “Welas Asih / Kasih Sayang” menghadap ke kota Semarang. Hal ini mempunyai makna agar kota Semarang terbebas dari segala macam marabahaya serta bencana. Patung Panglima “Weng Do” yang bertujuan sebagai Pelindung Keselamatan sekaligus penjaga Kuil / Pagoda tersebut. Pagoda ini bersusun 7 tingkat yang artinya “Budha yang sudah mencapai Tingkat Kesucian Tertinggi”. Tinggi Pagoda 45 meter, yang artinya “4+5=9, dimana angka sembilan nilai tertinggi dan menunjukkan keberuntungan dan prestasi tertinggi”. Pagoda ini adalah Pagoda tertinggi di Indonesia.

Setelah itu kami bergeser kesebelah disebuah Vihara kecil yang terdapat Patung Budha dan didirikan sekitar tahun 1957. Disekeliling pagar ada beberapa relief yang menggambarkan : Kontak Hati, Nafsu Makan, Kelahiran, Orang Tua, Tua dan Mati (Saya tidak melihat semua ornamen/relief yang digambarkan dipagar mengelilingi Vihara ini).

Patung Budha Watu Gong

bersambung……

.::he509x™::.

Related Posts

Put your related posts code here
  1. 8 Responses to “Jeng Semawis I”

  2. By Goen pemalassss on Feb 9, 2008 | Reply

    Liputan yang sip!

    Aku males nulis liputan kang… Gara-gara WIKI!!

  3. By Alex Budiyanto on Feb 9, 2008 | Reply

    Wah, panjang ya.
    *kaboor*

  4. By MaNongAN on Feb 9, 2008 | Reply


    Goen tdk pemalassss :
    - U punya liputan juga swips.
    - ada apa dgn wiki?

    Alex Budiyanto :
    Ralat, yg benar adalah :
    Wah, panjang juga yah.

    .::he509x™::.

  5. By Fany on Feb 9, 2008 | Reply

    “Sempet megang tangannya sebentar sewaktu menyerahkan rokok kesaya sampai rokoknya jatuh. Tapi, saat menyerahkan rokok kedua kalinya sempet megang lagi..”

    HAHHAHAA…. lucu baca bagian ini :lol:

  6. By MaNongAN on Feb 9, 2008 | Reply


    Fanny :
    owh iya, yg situ ngajak salaman saya berkali-kali itu malah gak masuk kecerita yah? *ppsstt….rahasia yes*

    .::he509x™::.

  7. By didut on Feb 10, 2008 | Reply

    set dah panjangnya ….

    komen bersambung…

  1. 2 Trackback(s)

  2. Feb 9, 2008: MaNongAn » Blog Archive » Jeng Semawis II
  3. Feb 10, 2008: Jeng Semawis » CAHANDONG.ORG

Post a Comment

About Me

509 = liMA NOl/kosoNG sembilAN = MaNongAn = MAkan NONGkrong NGANtuk

.::he509x::.

More

Want to subscribe?

 Subscribe in a reader
Find entries :