Jeng Semawis II
Jeng-Jeng Semarang Wayah’e Gerimis II
Sambungan dari Jeng Semawis I
Kuil Sam Pho Khong
Siang itu sekitar jam 11 siang kami masih berada didalam komplek “Pagoda Avalokitesvara Buddhagaya Watugong”. Hujan rintik-rintik dan hawa dingin membawa ingatan saya kembali ke kota Malang, tempat dimana saya dahulu berkuliah. Kabut tipis menyelimuti wilayah ini menghalangi pandangan mata ke arah kota Semarang. Dan secara keseluruhan, suasana saat itu sangat saya suka.
Kemudian HP salah satu rekan berdering mengabarkan rekan dari Loenpia sudah siap dengan armada satu mobil dan beberapa motor menunggu di Gombel. Lalu kamipun bergegas kembali ketempat parkir dan meninggalkan lokasi “Pagoda Avalokitesvara Buddhagaya Watugong”.
Sesampai di Puncak Gombel, kami bertemu dengan rekan-rekan Loenpia, dan kamipun langsung meluncur ke “Kuil Sam Pho Kong” (Laksamana Cheng Ho). Sesampainya disana cuaca masih belum bersahabat, hujan masih terus mengguyur membasahi tubuh kami.
Karena hal itulah kami tidak menemukan suatu hal yang sangat kami bayangkan sebelum memutuskan berangkat jeng-jeng (jalan-jalan ala Semarang) di hari IMLEK 2559 ke kota Semarang. Ya, kami membayangkan di Kuil Sam Pho Kong ini kami banyak melihat gadis-gadis Oriental yang berlalu-lalang didepan kami. Lalu kamipun bisa mengabadikan mereka lewat kamera-kamera yang sudah kami persiapkan.
Hari itu kami hanya melihat sekumpulan pengunjung yang sebagian besar berwajah “melayu”. Jarang kami melihat wajah “Oriental”, meskipun ada rata-rata adalah orang tua atau kurang sesuai dengan harapan. Akhirnya kami hanya berteduh dibawah aula berdesak-desakan karena lusnya tidak menampung jumlah pengunjung yang menghindari terpecik air hujan.
Disana saya sempat berkenalan dengan Kru TV7 yang akan meliput sebuah acara petualangan anak. Ceriteranya (sesuai skenario) adalah perjalanan 2 orang keturunan Tionghoa bersama rekan-rekannya pribumi asli dalam mengikuti sebuah group “Barongsai”. Tetapi menurut pengakuan mereka, saat ini sangat susah menemukan seorang anak keturunan Tionghoa yang mau mengikuti group Barongsai. Rata-rata anak yang mengikuti group barongsai adalah dari pribumi. Kemungkinan para orang tua dari keturunan tersebut takut jika si anak harus melakukan adegan-adegan berbahaya seperti membuat tumpukan hingga tinggi. Kebalikan dari para orang tua pribumi yang justru sangat bangga jika anaknya bisa melakukan loncatan/formasi yang berbahaya itu.
Disela-sela percakapan kami, Mat nDoyok sempat mengabadikan secercah sinar dilebatnya air hujan, yaitu wajah seorang gadis “Oriental Arabica” atau “Orientalis Padang Pasir”. Wajahnya yang imut menjadikan obyek pemuas dahaga pandangan seluruh pria dikomplek tersebut. “Duh Gusti…. Duh Pangeran…. Paringono Kulo BuHaji ingkang Keren”
Dikuil ini kami: saya, Mas Iman, Mat ndoyok, Antokondo, Leksa, Pangsit, dan Goen (saya lupa Abud saat itu ikut/tidak), menerobos serbuan air hujan bergerak menuju pintu masuk kuil.Ternyata selain orang yang akan bersembahyang, pengunjung dilarang masuk. Kami sempat berkoordinasi merencanakan si Goen untuk disusupkan kedalam kuil dan mengambil foto-foto seperlunya untuk oleh-oleh kita. Entah karena apa, rencana tersebut gagal dilaksanakan. Akhirnya kami kembali ketempat semula, disana salah satu APEL (sebutan wanita warga loenpia) mbak Niea datang bersama 2 makhluk kecil yang imut-imut (aduh,
adeknya yang perempuan kok maluw-maluw chiwww).
Lunch
![]()
Gambar dicomot dari punyanya Mbak Fany
Karena kehujanan dan hawa dingin yang menyengat, kamipun sukses dalam hal melaparkan diri (sarapan bubur pak brwok tadi pagi kurang mengenyangkan perut kita). Lalu kamipun berangkat menuju tempat makan di daerah ? Disini Mbak Ninings warga loenpia dari jepara ikut bergabung.
Lawang Sewoe
Selesai makan siang, kami berangkat menuju “Lawang Sewu”. Dini lagi-lagi kami bertemu dengan rombongan “Gadis Oriental Padang Pasir”. Tetapi kali ini mereka sudah siap-siang membubarkan diri, sedangkan kami baru saja masuk ke kawasan ini. Memasuki kawasan ini kami dikenakan biaya Rp.5000,-/orang. Sekitar sembilan belas orang kami mulai memasuki dan menelusuri Lawang Sewu. Dan inilah laporan berupa Filem yang diabadikan oleh rekan dari loenpia.
Lawang Sewu from ariwibowo on Vimeo.
Back to nDoyokarto
Sekitar jam 16:00 kurang, kami keluar dari kawasan “Lawang Sewu” dan meluncur kembali menuju rumah Mas Didut. Hujan semakin deras, dan kamipun bersiap-siap untuk kembali ke kota kami nDoyokarto Hadiningrat. Karena derasnya air yg mengguyur bumi, kamipun bersepakat untuk menyewa mobil yang kami pakai untuk berkeliling kota semarang untuk mengantarkan kami kembali ke Yogya. Setelah ada kesepakan antara Sopir, Mas Iman, dan Kang Didut, sekitar jam 5 sore kamipun kembali ke Yogya.
Sekiranya ucapan terimakasih saja sangat kurang jika diberikan kepada rekan-rekan dari “Loenpia” atas sambutannya. Salut atas perjuangan dan kekompakan rekan-rekan Loenpia dalam menjebol barikade hujan agar kami “CahAndong plus Mas Iman” bisa menikmati jeng-jeng (jalan-jalan ala Semarang) di hari IMLEK 2559 di kota Semarang. Di dalam hati diri kami masing-masing berjanji untuk bisa membalas budi baik mereka jika datang ke kota kami (Insya Allah).
Didalam perjalanan tak henti kami membahas perjalanan kami hari itu, tidak lupa kami membumbuinya dengan cerita-cerita mengenai junjungan kami dari Tanah Soeci Soerabja Soemoekpoel. Disekitar daerah Bawen Magelang sebagian dari kami terserang HIV (Hasrat Ingin Vivis) dan terpaksa mobil berhenti sejenak untuk sekedar melepas hasrat dan lelah.
Saat itulah ternyata Goen lagi-lagi menembakkan amunisi setelah yang pertama kali dia juga menembakkan amunisi sesaat turun dari Bis di dekat Graha Pena kemaren. Barulah kita tahu, ternyata dia tidak tahan menaiki kendaraan Roda Empat/lebih.
Perjalanan dilanjutkan kembali, akhirnya sekitar jam 7 malam sampailah kami di Terminal Jombor. Sebagian rekan turun disini karena kendaraan motor mereka titipkan dalam terminal. Sedangkan saya nebeng mobil mengantarkan Mas Iman menuju “Wisma MM-UGM-Sagan”. Setelah selsai mengantarkan Mas Iman, saya kebagian terakhir diantar sampai kantor.
Tamu, Utusan dan Jamuan Makan
Setelah mandi, saya santai-santai menjumpai dan mengencani “Pacar kedua” sambil menunggu panggilan dari Mat nDoyok untuk acara selanjutnya. Sekitar jam sembilan malam, Sultan nDoyok mengabarkan bahwa Mas Intan sudah siap berburu dan mengomando saya agar merapat ke Wisma. Bersama “Pacar Baru” yang belum lengkap berbusana itu saya meluncur ke TKP, disana sudah ada anggota yaitu : Zam, Anto, Goen, dan Ekowanz. Setelah itu menyusul Momon, Tika, dan kawan-kawannya.
Sempat bingung mau diajak kemana Mas Iman untuk makan malam, akhirnya diputuskan untuk makan malam di “Gudeg Mirota Gejayan”. Kamipun meluncur, dan saya sempat menghubungi mbak Amma bahwa kita ngumul disana.
Sampai disana kami langsung menyantap makanan sambil menunggu kedatangan seorang utusan dari “Tanah Soeci Soerabaija Soemoekpoel” saudara cempluk. Ternyata kedatangannya juga membawa sebuah titipan “Prasasti” pemberian langsung dari “Baginda Siapapun Tahu Siapa Dia Yang Tidak Bisa Disebutkan Namanya Itu”.
Bungah, senang, haru, berkecamuk menjadi satu didalam hati seluruh wadyabala nDoyokarto Hadiningrat yang tidak mengira dan tidak menduga telah mendapatkan berkah berupa “Prasasti” yang didalamnya terdapat Ayat khusus dan juga tandatangan ASLI dari Sri Baginda Siapapun Tahu Siapa Dia Yang Tidak Bisa Disebutkan Namanya Itu.
Setelah mendapatkan titipan wejangan tambahan, makan-makan, dan perkenalan serta hari sudah menginjak malam hari, kamipun bersepakat untuk membubarkan diri.
Sekian Laporan saya mengenai Jeng Semawis = Jeng-Jeng Neng Semarang ing Wayah Gerimis. Bila ada kata-kata atau kalimat yang kurang dalam tata penulisan/tempat atau yang menyinggung perasaan, saya menghaturkan ma’af yang sebesar-besarnya.
Tak lupa saya mengucapkan banyak terimakasih kepada Jeruk dan Apel Loenpia yang sudah menjamu kami dengan baik meski sedikit terhalang oleh badai hujan yang tiada hentinya.
Warga Loenpia yg hadir :
- Didut
- Fian
- Pepeng
- hyudee
- Munif
- Ariwibowo
- Lowo
- Budiyono
- Fany
- Niea
- Ninings
- siapa lagi yah….
Laporan Lain :
- Iman Brotoseno
- Zamroni
- Antobilang
- Fahrizal
- Ari Prasetyo
- Gunawan
- Alex Budiyanto
-MaNongAn-
090208
.::he509x™::.

15 Responses to “Jeng Semawis II”
By
annotnymous™ on Feb 9, 2008 | Reply
ndak ikut ke sem[b]arang ndak jadi soal, paling ndak saya dah kecripatan kopdar sama mas Iman malam sabtunya
By
chiw on Feb 9, 2008 | Reply
ehem… tak kalah, kami dari Surabaya juga melaksanakan yang namanya napak tilas imlek…
berikut laporannya, bisa dilihat di Blognya Angkinjeng juga Blognya Fahmi
sedangkan sekrinsyur, bisa diliat di empinya Fahmi, ato empinya Gita
By
MaNongAN on Feb 9, 2008 | Reply
.::he509x™::.
By
ekowanz on Feb 9, 2008 | Reply
scroll atas —— bawah —– atas —- bawah — kok ga ada si arabian oriental sih?????
By
MaNongAN on Feb 9, 2008 | Reply
.::he509x™::.
By
didut on Feb 10, 2008 | Reply
saya tunggu postingan prasastinya
By
cempluk on Feb 11, 2008 | Reply
alhamdulillah, syukut dumateng gusti Allah dipun paringi keselametan tekan surabaya sehat wal afiat..
hohohoh…it’s the first time i see you sir..nice to see all blogger cahandong..
By
cempluk on Feb 11, 2008 | Reply
ralat : prasasti tersebut bukan pemberian dari mas anangku..namun merupakan ide cempluk buat ngasih sesuatu saat kopdar bareng cahandong, dan ide tersebut adalah membuat prasasti tsb saat kopdar TPC tgl 5 feb 08 sblm brangkat ke jogja..
By
funkshit on Feb 11, 2008 | Reply
duh… saya juga belum liat prassastinya
di masukin wiki donks . .
*cek wiki sepertinya ngga ada
By
aad on Feb 11, 2008 | Reply
oleh2nya masih ndak ??
By
MaNongAn on Feb 11, 2008 | Reply
.::he509x™::.
By
Goenawan Lee on Feb 11, 2008 | Reply
Siyal…apa itu menembakkan amunisi…
By
MaNongAn on Feb 12, 2008 | Reply
.::he509x™::.