Seks Mami

Written on 25 - February - 2008 – 1:35:58 | by MaNongAn |

Sekaten di Malam Minggu

sekaten
Sabtu 23 Februari kemarin saya dan beberapa rekan dari CahAndong melaksanakan 2 buah kegiatan yang sudah lama terjadwalkan. Yaitu : Mencoba Bus Trans Jogja dan Pergi ke SEKATEN.

Bus Trans Jogja

Sekitar jam 5 sore kami berkumpul di Bunderan UGM, tepatnya di Wedangan depan markas Menwa UGM. Yang berkumpul saat itu adalah : Saya, Zam, Anto, Pangsit, dan Goen. Setelah memarkirkan sepeda motor di RS. Panti Rapih, kamipun bergegas menuju Shelter/Halte Bus BTJ di depan Panti Rapih sisi Utara.

Saya mengira harga tiket adalah Rp. 3.000,- ternyata hari itu karcis/tiket masih seharga Rp. 1.000,-/orang (5th keatas). Kamipun lalu masuk kedalam kurungan halte yang sempit. Berhubung saat itu yang ada hanya kami berlima, jadi tidak terasa sempitnya. Tak berapa lama (sekitar 15 menit) BTJ pun datang. Whuaaah, ternyata penuh sesak oleh ibu-ibu dan anak-anak kecil yang saya berfikir mereka sedang “berwisata transportasi”. Karena tidak semua anggota tim yang bisa ikut, akhirnya kami memutuskan untuk naik BTJ selanjutnya.

Tak berapa lama mulai bertambah penumpang yang ingin menaiki bus ini, tempatpun bertambah sesak. Ada kejadian, beberapa kali mesin tiketnya rusak. Sehingga calon penumpang mamsuki area dengan melewati pintu cadangan.

Akhirnya bus keduapun datang, lagi-lagi penuh sesak dengan para ibu dan anak kecil. Tetapi kali ini kami berlima bisa masuk semuanya, dan dimulailah perjalanan pertama kali menaiki “Bus Trans Jogja”.

Berhubung diluar gelap, saya tidak tahu jalan mana saja yang kami lalui. Tahu-tahu kami sudah sampai didepan “Taman Pintar”, kamipun turun disana. Saat turun Mat “Zam” nDoyok menelpon posisi Leksa, Nico, dan mbak senja yang katanya sudah ada dilokasi sekaten. Ternyata mereka ada di alun-alun selatan, sedangkan tempat sekaten ada di alun-alun utara. Lalu kami menuju “Masjid Agung Kauman”, dan sebagian dari kami melaksanakan Sholat Maghrib dan Isya.

Dihalaman masjid ini mbak Cya “Fame” pyla bergabung. Dia juga memarkirkan kendaraannya di RS. Panti Rapih, tetapi dia naek bus biasa menuju malioboro. Dari malioboro dia ajlan kaki menuju masjid agung. Dia membawa oleh-oleh “Kerak Telor Khas Betawi”, kamipun beramai-ramai menyantap kerak telor tersebut.

Tak berapa lama Fah “Leksa” rizal datang bergabung, tapi anehnya dia datang sendiri tidak ditemani oleh Nico dan Mbak Senja. Ah ternyata mereka berdua sedang mengadakan sekatenan sendiri, dan Leksa sebagai orang ketiga mengalah mencari kelompok sekaten lain (kami).

SEKATEN

Istana Funkshit
Setelah tidak ada penambahan anggota lagi, mulailah kami bergerak memasuki areal acara Pesta Rakyat (Sekaten). Keluar halaman Masjid Agung, kami dikenakan biaya Rp. 1.000,-/orang. Beberapa rekan sempat menanyakan “Mau beribadah (Sholat didalam Masjid) saja, kok harus bayar?”. Tetapi kemungkinan orang-orang pemungut “Pajak 1.000″ itu mengetahui tidak semua yang keluar dari Masjid itu sudah membayar tiket sekaten di pintu masuk utama. Maka mereka memungut biaya tersebut (jika bisa menunjukkan tiket masuk, tidak akan dikenakan biaya).

Memasuki area sekaten, kami langsung menuju penjaja mainan khas sekaten “Kapal Klotok”. Si Anto membeli sebuah karena dititipi oleh seseorang.

Suasana sangat ramai dan padat, kamipun menerobos dan akhirnya tiba didepan Stand Tong Setan. Kamipun membeli tiket dan menonton sebuah penampilan mengerikan dari seorang pengendara motor tanpa pelindung yang mengitari sebuah tong terbuat dari kayu.

Keluar dari sini turun hujan dan kami berlarian mencari tempat berteduh. Ternyata kami berteduh didepan Stand “Rumah Hantu”, jiwa nDoyok kamipun tertang untuk mencoba memasukinya. Formasi jalan beriringan : Saya, Goen, Leksa, Pangsit, Fame, Anto, dan Zam. Ah, ternyata hanya segitu saja. Bukannya membuat kami ketakutan, tetapi keluar dari stand ini kami malah tertawa terbahak-bahak.

Hal ini dikarenakan hanyu-hantunya tidak ada yang seram (hanya menang bau dupa yang menyengat). Si Zam gagal mengambil gambar karena hantunya ngumpet. Dan si Zam kehilangan hantu terakhir karena sang hantu meninggalkan posnya mengikuti kita ikut keluar arena (mungkin dia naksir Anto yg saat itu posisi paling belakang karena Zam tertinggal jauh).

Begitu keluar dari arena, hujan reda. Setelah berfoto-foto sejenak, kamipun melanjutkan perjalanan kembali. Melewati Stand sebuah kendaraan bermotor, disana ada seorang artis sedang mentunkan lagu dangdut. Kamipun berhenti dan menonton. Niat kami untuk mengikuti jogetan dan berfoto tidak terlaksana dikarenakan arena joget sudah penuh sedak. Kami berusaha menunggu lagu selanjutnya, tetapi lagunya tidak “Jogetistik & goyangable” akhirnya kamipun meninggalkan area tersebut.

Oh iya, sebelumnya kami melihat sebuah permainan entah apa namanya. Bentuknya bulat seperti komedi putar atau atap payung yang berisi bangku kayu yang melingkar. Para penumpang duduk berjejer tanpa ada pengaman yang melingkari tubuhnya (hanya bermodalkan berpegangan pada senderan bangku). Lalu beberapa orang lelaki memegangi bangku serta berlari semakin kencang memutar bangku tersebut sambil mereka beraktraksi mengoyang-goyangkan sehingga sambil berpegangan alakadarnya mereka ikut melayang mengikuti arah bangku tersebut. Suatu tindakan bodoh atau berani?

Akhirnya kami sampai di Stand “Kereta Kelinci”, sebelumnya kami membeli : kacang rebus dan arumanis. Kami berlima menaiki kereta kelinci, dan mendapatkan kenalan 2 orang gadis yang salah satunya ternyata satu jurusan dengan Goen di HI-UPN.

Setelah puas naik kereta kelinci, kami membeli “Tahu Pong” dan “Kue Bolang-Baling”. Selanjutnya kamipun menuju “Wedangan” untuk menyantap tahu dan kue yang kami beli tadi serta untuk memesan minuman serta menyantap Sego Kucing.

The End

Agak lama kami berada diwedangan, sambil ngobrol kami menunggu hujan agak reda. Ada hal yang menarik disini : “Ada seorang pemulung lewat, dan hebatnya …… dia menggunakan Bluetooth/Headseat ditelinganya” (kami kurang jelas apa sebenarnya ditelinganya dikarenakan agak gelap. Dia berhenti tidak jauh dari wedangan tempat kami nongkrong, sehingga kami bisa memantau gerak-gerik dia saat mengeluarkan sebuah HandPhone dan ngutak-ngatik (entah sedang SMS atau sedang mengganti lagu yg sedang didengarkan).

Setelah hujan sudah reda, kami bergegas pulang. Jalur yang kami lalui : alun-alun Utara, jl. malioboro, jl. mangkubumi, Tugu belok kanan (timur) melewati Jembatan Gondolayu, terus hingga perempatan Gramedia/kantor pos polantas/Kodim, Belok ke kiri (utara) Jl. Cik Ditiro. Sampai di pertigaan jl. kartini kami berhenti dan berunding akan melanjutkan kemana. Karena tidak ada titik temu, akhirnya saya mengajak mereka untuk ke kantor saya yang hanya berjarak kurang dari 100 meter. Disini sebagian dari kami melepaskan lelah dan sebagian begadang sampai pagi (termasuk saya).

sekaten 2

Selama perjalanan tersebut kami sempat berhenti dan berfoto di :

  • Depan Istana Kepresidenan
  • Perempatan Jl. Pasar Kembang
  • Tugu
  • Burjo Gondolayu
  • Patung Pak Wibawa (polisi)

Demikian liputan dan cerita kami dalam melaksanakan perjalanan SEKATEN di malam mingu. Apabila ada kekurangan saya mohon ma’af yang sebesar-besarnya.

Keterangan :

  1. Foto by : Anto, Zam, dan Feme; Edit Photoshop by : MaNongAn.
  2. Mengenai makna dan awal mula SEKATEN saya mempunyai pikiran untuk membahasnya dikemudian hari dengan membuat kategori/tag baru.
  3. Mengenai sekaten jalan kaki, ini merupakan kali kedua saya melakukannya. Yang pertama adalah disaat bersama rekan-rekan lesehan th 2005 silam menjamu saudara Didat Triyadi yg datang menyambangi kami.

Liputan terkait :

  1. Sekaten Malam Minggu
  2. Tong Setan
  3. ….

Related Posts

Put your related posts code here
  1. 18 Responses to “Seks Mami”

  2. By antobilang on Feb 25, 2008 | Reply

    wakakakaka..iya ya kita sempet foto di depan Sarkem.. wikikikiki..

    *kelingan ekspresi fame*

  3. By MaNongAn on Feb 25, 2008 | Reply


    Anto :
    lah iyes, trus mana nih poto-poto lainnya?

    .::he509x™::.

  4. By balibul on Feb 25, 2008 | Reply

    Wakakakakak

    Duh ngangeni ki mas…

  5. By MaNongAn on Feb 25, 2008 | Reply


    Balibul :
    Hayo mulih, mumpung jhik buka nganti tgl : 20 Maret 2008

    .::he509x™::.

  6. By bangsari on Feb 26, 2008 | Reply

    jyan, marahi iri wae. ra iso mulih jogja ki. dasar nasib buruh….

  7. By vcrack on Feb 26, 2008 | Reply

    weh judulnya provokatif bgt… huahahahaaaaa…

  8. By MaNongAn on Feb 26, 2008 | Reply


    bangsari :
    lah monggo tinggal terbang kesini aja toh.

    vrack :
    usul pertama saya sih “SekMalming”, tau-tau ada yg nyambung gitu.

    .::he509x™::.

  9. By ndoro kakung on Feb 26, 2008 | Reply

    gak ada foto penyanyi dangdut sekatenan yo?

  10. By MaNongAn on Feb 27, 2008 | Reply


    Ndoro Kakung :
    Siap, nanti ditampilkan setelah di edat-edit skrinsyutnya bos.

    .::he509x™::.

  11. By nico on Feb 27, 2008 | Reply

    *perasaan saya pulang duluan dan meninggalkan ijal dengan senja*

  12. By MaNongAn on Feb 28, 2008 | Reply


    nico :
    harah, dikonfirmasi. Biarkanlah isyu berkembang seperti adanya.

    .::he509x™::.

  13. By ayda on Feb 28, 2008 | Reply

    Naek kereta kelinci??? wuahahaha..

  14. By MaNongAn on Feb 28, 2008 | Reply


    Ayda :
    napa? iri? …. makanya kesini !

    .::he509x™::.

  15. By mikow on Feb 28, 2008 | Reply

    duh kapan ya bisa ke ygy lagi :(

  16. By pudakonline on Feb 28, 2008 | Reply

    menunggu tulisan selanjutnya, sejarah sekaten lebih mendalam!

  17. By MaNongAn on Feb 29, 2008 | Reply


    mikow :
    ke BALI aja mampu, masa ke Yogya gak mampu? kayak iklan aja luh (jogja nyasar ke bali).

    pudakonline :
    masalahnya, saya gak punya literatur yg cocok (buku lama atau catatan lama).

    .::he509x™::.

  18. By leah on Mar 3, 2008 | Reply

    hayoo beli ndog abang juga ndakk… :)

  19. By MaNongAn on Mar 11, 2008 | Reply


    leah :
    ndhog Abang <— ini maksudnya : 1. ndhog werno abang (merah), atau 2. ndhog’e abang-abang ?

    .::he509x::.

Post a Comment

About Me

509 = liMA NOl/kosoNG sembilAN = MaNongAn = MAkan NONGkrong NGANtuk

.::he509x::.

More

Want to subscribe?

 Subscribe in a reader
Find entries :