Harkitnas
Hari Kebangkitan Nasional
20 Mei 2008
Tepat hari ini pada seratus tahun yang lalu, perkumpulan Budi Oetomo berdiri. Perkumpulan ini dijadikan sebagai titik tonggak sejarah Kebangkitan Nasional Indonesia, yang mana pada masa itu kondisi negara masih dalam masa penjajahan. Meski pada awal pendiriannya perkumpulan ini bersifat etnik dan beranggotakan para bangsawan atau orang-orang yang terpelajar, namun hal itu merupakan suatu tonggak kebangkitan dari para putra bangsa yang perduli dengan bangsanya untuk merubah nasib penghidupan yang lebih baik.
Meski saat ini ada sebagian masyarakat yang mempercayai bahwa pendirian Sarikat Islam lebih awal dari pada pendirian Budi Oetomo, namun pada prinsipnya bahwa pada masa itu para pemuda sudah berniat untuk bangkit bersatu padu membentuk suatu perkumpulan guna mensejahterakan kehidupan masyarakat, terutama berusaha untuk melawan dari kekuasaan penjajahan.
Sangat susah menerjemahkan arti dari kata Nasionalisme, karena kata tersebut lebih mendekatkan pada suatu gejolak jiwa yang bersifat kebangsaan. Sifat Nasionalisme merupakan sutu perwujudan dari perasaan tersebut. Orang-orang yang mempunyai sifat Nasionalisme akan lebih memperhatikan nasib dan kondisi bangsanya diatas kepentingan pribadi atau golongan.
Saat ini sudah jarang orang yang memikirkan dan memperhatikan situasi kondisi bangsa. Meski saat ini banyak berdiri perkumulan golongan atau partai-partai politik, tetapi sebagian besar mereka kurang memperjuangkan nasib serta kehidupan dari rakyat kecil. Mereka terlalu asyik dan terlena memperjuangkan nasib golongan atau partai mereka sendiri. Memang tidak semua orang didalam perlumpulan atau partai tersebut lebih mementingkan diri sendiri, tetapi keinginan untuk memperjuangkan nasib rakyat akan kalah serta pupus setelah berhadapan dengan kepentingan golongan atau partainya. Memperjuangkan nasib orang kecil sudah dikalahkan oleh ego dan kepentingan pribadi atau golongan. Mereka sudah merasa bahwa golongan atau partainyalah yang paling benar. Cara-cara damai dalam mufakat sudah jarang dipakai, sehingga malah lebih sering menimbulkan pertikaian serta gontok-gontokan.
Situasi dan kondisi bangsa sudah menurun, hal ini dikarenakan oleh kesalahan manusia sendiri yang tidak menghormati sesama manusia dan alamnya. Kondisi ini diperparah dengan kurang bersyukurnya manusia kepada Sang Maha Pencipta atas segala anugerah yang sudah diberikan. Bangsa yang ramah-tamah dan sopan santun, secara perlahan meninggalkan dan melupakan jati dirinya demi mementingkan kepentingan duniawi. Mereka lupa bahwa setelah kehidupan didunia, masih ada kehidupan akhirat yang lebih kekal. Lapar sudah membuat bangsa yang ramah menjadi beringas.
Berulangkali sejarah membuktikan, persatuan kesatuan membuat bangsa semakin kuat dan sejahtera. Sedangkan pertikaian serta mementingkan kepentingan pribadi akan melemahkan bahkan menghacurkan negara. Sejarah kemunduran dan hilangnya nama besar kerajaan pada masa lalu ternyata belum juga membuat bangsa ini menjadi waspada dan jera.
.::he509x™::.

4 Responses to “Harkitnas”
By
mikow on May 21, 2008 | Reply
inget jaman sma, pernah di uber2 anak boedi oetomo ga?
By
Andi Eko on May 22, 2008 | Reply
He he he Haritnas juga Hari Kecepit Nasional
Banyak yang cuti lho dikantor2x
By
Ndoro Seten on May 22, 2008 | Reply
leres sanget kang!
bangsa ini sedang kehilangan jati dirinya,
dan satu-satunya cara untuk bangkit kembali adalah dengan menemukan kembali jati diri tersebut…
By
MaNongAn on May 24, 2008 | Reply
.::he509x™::.