Gong
Asal mula GONG diletakkan menggantung.
Anak muda sekarang sudah banyak yang tidak mengetahui apalagi memahami mengenai sejarah budaya bangsa. Perkembangan jaman selalu disalah artikan untuk melupakan budaya warisan leluluhur yang seharusnya dijaga serta dilestarikan sepanjang masa. Oleh karena itu saya berusaha untuk menceritakan kembali sedikit mengenai sejarah budaya warisan nenek moyang. Semoga bisa memberikan sedikit pencerahan bagi orang-orang yang mau memahami dan melestarikannya.
Gong merupakan salah satu alat musik asli warisan nenek moyang Indonesia, disetiap pelosok daerah dan suku-suku asli banyak dijumpai alat ini. Alat ini juga ditemukan dibeberapa negara, tetapi fungsinya sangat banyak diketemukan di Indonesia, oleh karena itulah Gong diyakini ASLI berasal dari Nenek Moyang Indonesia.
Rata-rata bentuk dan bahan Gong sama, yaitu terbuat dari logam berbentuk bundar dan ada tonjolan ditengahnya. Sedangkan fungsi ditiap suku sangat beragam. Di kalimantan ditemui sebuah tarian yang memakai alat ini sebagai pijakan. Sedangkan di Jawa, rata-rata alat ini merupakan salah satu dari alat Gamelan sebagai pengiring tarian atau kesenian wayang. Sebagai alat gamelan dan sebagai alat satuan yg berdiri sendiri, alat ini diletakkan menggantung pada sebuah kayu yang biasanya berukiran Nagaraja.
Ada sebuah cerita mengapa Gong di jawa ditaruh menggantung, bukan ditaruh dibawah seperti diketemukan didaerah Kalimantan. Dahulu kala pertunjukan wayang di Jawa diadakan minimal sehari semalam dalam mengiringi beberapa acara. Semakin tinggi derajat orang yang mempunyai hajat, biasanya semakin lama pertunjukan wayang diadakan.
Suatu waktu karena lelah manggung sehari semalam tanpa henti dan masih dilanjutkan pada hari berikutnya, seorang waranggana (penyanyi dalam group gamelan) yang sangat montok tertidur tepat disebelah Gong. Kebetulan pemukul gong saat itu juga agak sedikit mengantuk. Akhirnya pada suatu waktu ketukan Gong akan dipukul, situkang tadi terpeleset dan salah memukul (ma’af) bukit kembar mbak waranggana yang sedang tertidur disebelahnya.
Pertunjukan wayang sempat berhenti beberapa saat karena ada suara aneh pada ketukan tersebut. Yang mana seharusnya bunyi ketukan saat itu adalah berbunyi “GONG”, tetapi saat itu walhasil bunyi yg terdengar adalah “TUK….ADUHH”. Sang Dalang melirik pemain gamelan dan mencari tahu apa yang sudah terjadi. Ooooaaalllaaahhhhhhh, ternyata si tukang gong salah memukul. Akibat insiden kecil ini sang waranggana jadi terbangun dan sedikit meringis kesakitan sambil mengelus dadanya yang terpukul. Sedangkan pemukul gong disuruh kebelakang untuk mencuci muka serta meminum kopi agar tidak ngantuk.
Sang Dalang akhirnya mempunya ide untuk menggantungkan saja Gong tersebut, hal ini dikarenakan agar dilain hari tidak ada kejadian serupa yang sedikit menggelikan serta memalukan ini. Oleh karena itulah, semenjak saat itu, kenapa alat gamelan GONG diletakkan menggantung.
Demikian cerita yang saya dengar dan saya baca dari orang yang gak jelas serta dari sumber yang tidak jelas pula. Semoga tulisan ini TIDAK dijadikan acuan sebagai garapan skripsi, disertasi, dan ajaran disekolah-sekolah lainnya. Apabila dipakaipun, itu adalah salah sampean sendiri bukan salah saya.
Terimakasih, Wassalam.
.::he509x™::.

19 Responses to “Gong”
By
ulan on Jun 18, 2008 | Reply
beneran begitu cerita nya?? pake salah pukul dulu ya ternyata..
By
Hedi on Jun 18, 2008 | Reply
percayalah, maen gong itu susah walaupun cuma sekali-kali mukulnya. pemaen gong jaga ritme
By
Hedi on Jun 18, 2008 | Reply
percayalah, maen gong itu susah walaupun cuma sekali-kali mukulnya. pemaen gong jaga ritme
By
goop on Jun 18, 2008 | Reply
Maap nih ki Gandung, saya mendadak bingung. Bila kejadiannya seperti itu, kok bentuknya mirip, yak?
Kejadian salah mukul duluan baru jadi gong, atau gong dulu baru salah mukul, atau saling menginspirasi bgitu yak?
*menyublim*
By
Epat on Jun 18, 2008 | Reply
hoax kie mesti…..kekekeeke iso ae ah kang
By
iman brotoseno on Jun 18, 2008 | Reply
he he..masak sih..
By
mikow on Jun 19, 2008 | Reply
thx atas infonya..
mo nanya lagi, kenapa bendolannya gong itu cuma 1? kenapa tidak 2?
By
doc_wong on Jun 19, 2008 | Reply
Great story. Cuman warna background blognya dengan fontnya tidak eye-friendly, setidak2nya demikian menurut saya. Saya kesulitan membacanya, dan hanya dengan bantuan di-highlight, saya baru bisa membacanya dengan baik
By
MaNongAn on Jun 19, 2008 | Reply
.::he509x™::.
By
leah on Jun 21, 2008 | Reply
ooo jadi begitu ya pak asal mulanya.. *manggut - manggut*
By
aLe on Jun 23, 2008 | Reply
byuh, jangan2 bentar lagi menerima job mengarang sejarah neh
By
MaNongAn on Jun 24, 2008 | Reply
.::he509x™::.
By
wedhouz on Jun 24, 2008 | Reply
yen sing dithuthuk gunung kembare munine ora “gong” ning “plek”
By
MaNongAn on Jun 25, 2008 | Reply
.::he509x™::.
By
edy on Jun 25, 2008 | Reply
kirain beneran gitu asal mulanya…
By
amma on Jun 26, 2008 | Reply
oh gitu tha ceritanya..thq ya..nice post
By
MaNongAn on Jun 26, 2008 | Reply
.::he509x™::.
By
Nugroho on Jul 7, 2008 | Reply
ada ada saja
By
MaNongAn on Jul 14, 2008 | Reply
.::he509x::.