Merdeka
Segelas kopi tubruk panas dan sepiring singkong rebus menemani Mbah Tirto menikmati pagi. Wajahnya terlihat murung menatap kosong kedepan. Sebatang rokok tengwe terjepit diantara jari tangannya. Abunya sudah panjang menandakan dia sudah termenung agak lama. Hingga pada akhirnya, api rokok itu membakar sela jari dan membuat Mbah Tirto tersadar dari lamunannya.
Sakit dan panas api tersebut hanya dilirik saja seolah dia tidak merasakan. “hhmm…ppfffuuhhh,” helaan nafas panjang keluar dari mulut Mbah Tirto. Di ingatnya kembali apa yang sudah membuat hatinya begitu gelisah.
Mbah Tirto adalah seorang petani mantan kepala desa dan seorang pejuang. Sewaktu muda, dia dan sebagian besar penduduk di kampung dan sekitarnya ikut mengangkat senjata berjuang dalam rangka melepas penjajahan Belanda dan juga Jepang. Banyak rekan-rekan dan kerabatnya gugur dalam perjuangan tersebut. Namun kecintaannya pada negri serta semangat untuk merdeka tidak pernah pupus dari hatinya dan dia pun terus menjalankan perjuangannya.
Sejak muda Mbah Tirto di kenal sebagai seseorang yang baik, tegas, serta ulet. Bakat kepemimpinan sungguh-sungguh melekat pada dirinya. Semangatnya dalam mengobarkan api perjuangan kepada seluruh rakyat desa berlanjut hingga ke desa-desa tetangga. Oleh karena itulah, setelah akhirnya kemerdekaan diraih, Mbah Tirto dipercaya oleh seluruh masyarakat untuk menjadi Kepala Desa di kampung halamannya. Selain mempunyai jiwa pemimpin, Mbah Tirto juga mempunyai bakat dalam bidang pertanian. Hal ini dibuktikan dengan majunya sektor pertanian di saat dia menjabat sebagai Kepala Desa.
Lalu apakah yang sudah membuat resah Mbah Tirto sehingga dia termenung di pagi itu?
Rupanya semalam dia bermimpi. Di dalam mimpinya itu, dia didatangi oleh rekan-rekannya yang gugur dalam perjuangan. Mereka mengunjungi Mbah Tirto melalui mimpi dan menanyakan apakah mereka sudah MERDEKA.
Mimpi tersebut telah membuat kegalauan dihati, dan dipagi itu dia merenungi kembali pertanyaan dari rekan-rekan seperjuangannya tersebut.
Mbah Tirto adalah seorang SAKSI. Kesaksian perjuangan dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah, sekaligus sebagai saksi generasi muda dalam mengisi serta mempertahankan kemerdekaan.
“APAKAH KITA SUDAH MERDEKA ?” kata-kata itu terus saja terngiang-ngiang di kepala.
“Duh Gusti, bagaimana saya harus menjawab pertanyaan tersebut jika bertemu dengan rekan-rekan nanti di alam baka ?” desah Mbah Tirto.
Di ingatnya kembali kondisi desanya yang dahulu subur dan makmur, kini masyarakatnya hidup dalam kesusahan. Tuntutan Ekonomi dengan melambungnya harga-harga, bencana alam, serta keserakahan sebagian manusia sudah merampas kemerdekaan yang seharusnya sudah dan sedang dinikmatinya.
“Dahulu kami berjuang sangatlah gampang, karena musuh begitu jelas terlihat di depan mata. Sedangkan kini berjuang sangatlah susah, karena yang di hadapi adalah KESERAKAHAN diri pribadi.” pikir Mbah Tirto.
Walau demikian Mbah Tirto masih mempunyai HARAPAN. “Semoga seluruh rakyat SADAR atas kekeliruan dalam mengisi serta mempertahankan kemerdekaan ini. Dan semoga mereka bisa bangkit bertsatu padu secara gotong-royong dalam membangun negara yang Adil, Makmur, Aman, Tenteram, serta Sejahtera. Seperti yang sudah dicita-citakan oleh seluruh pejuang pada jamannya dahulu.”
Akibat terlalu memikirkan hal tersebut dan karena memang kondisinya sudah sangat rapuh, maka jantungnya pun berdegub dengan cepat. Kegalauan hati dan pikiran itu sungguh-sungguh membuatnya amat lelah.
Pada akhirnya, sebuah helaan nafas yang panjang mengakhiri kehidupannya. Bersandar pada dinding bambu teras rumahnya, PEJUANG itupun menutupkan mata untuk selama-lamanya.
“INNALILLAHI WA’INNAILLAIHI RODJIUNN.”
Seorang PEJUANG KEMERDEKAAN telah tutup usia dalam kondisi mempertanyakan KEMERDEKAAN yang sudah dibelanya secara mati-matian dan tanpa pamrih apapun juga.
.::he509x™::.

6 Responses to “Merdeka”
By
Goen on Aug 18, 2008 | Reply
Salah satu postingan pitulasan yang mencerahkan, kang.
By
didut on Aug 18, 2008 | Reply
semoga kita memang sudah benar-benar merdeka
By
Epat on Aug 19, 2008 | Reply
saya merdeka kok
By
adhe (thx 4 remember) on Aug 20, 2008 | Reply
inna lillahi wa inna ilaihi roji’un
By
iman on Aug 21, 2008 | Reply
sudah..dan belum merdeka dung
By
MaNongAn on Aug 21, 2008 | Reply
.::he509x::.