Ebliz dan IBLIS
TUHAN itu kalah baik dengan IBLIS. TUHAN selalu memberikan cobaan-cobaan sepada seluruh umatnya hingga akhir hayat. Sedangkan IBLIS selalu memberikan kesenangan dan kesejahteraan bagi penganutnya.
Demikianlah kira-kira ungkapan dari para manusia yang sudah tertutup hatinya, para manusia yang hanya memikirkan diri sendiri, para manusia yang sudah dibutakan seluruh panca inderanya untuk melihat serta merasakan kebesaran dan rakhmat dari TUHAN Yang Maha Esa.
Mereka telah mulupakan, bahwa TUHAN berbuat demikian karena CINTA dan SAYANG yang sangat besar kepada kita semua. Mengapa hal yang sepertinya sangat menyusahkan tersebut justru disebut dengan CINTA dan SAYANG ?
Karena, hanya TUHAN lah yang tahu pasti berapa kadar DOSA dan AMAL/IBADAH yang kita miliki. TUHAN tidak akan memberikan cobaan-cobaan kepada seluruh umat manusia jika manusia tersebut tidak kuat untuk menanggungnya. Bahkan dengan diberikan cobaan tersebut, TUHAN sedikit demi sedikit menghapuskan segala DOSA yang ada pada diri manusia hingga dosa yang dimilikinya itu habis. Selanjutnya, janji SURGA sudah menanti manusia dikehidupannya yang akan datang dan lebih kekal.
Kenapa pula IBLIS selalu memberikan rasa kesenangan, kebahagiaan, serta kemakmuran kepada para pengikutnya ?
Jangan salah sangka dulu. Dia berbuat demikian karena sengaja ingin menjerumuskan umat manusia agar bisa menemaninya di NERAKA pada kehidupan yang akan datang. Pula, IBLIS hanya bisa memberikan semua hal yang terlihat indah itu hanya dikehidupan sekarang saja. Lain itu IBLIS berbuat demikian juga bukan tanpa syarat, minimal syaratnya adalah manusia itu harus mau menjadi pengikutnya selama-lamanya.
Demikianlah hasil dari suatu perenungan yang saya dapatkan setelah bersama rekan-rekan EBLIZ (jelata andong) pada malam minggu kemaren menonton pementasan “Teater Dinasti” yang dimotori oleh EMHA AINUN NAJID beserta KYAI KANJENG dengan judul : “TIKUNGAN IBLIZ” di Taman Budaya Yogyakarta. Kami yang ikut serta adalah : saya, Goop, Tika, Antobilang, Leksa, Pangsit, Sandalian, dan temannya. Sebenarnya Momon tadinya ingin ikut serta, tetapi karena baru saja kembali dari Jakarta dan tertidur saat kami jemput, akhirnya dia tidak jadi ikut serta. Sedangkan yang mengajak kami menonton adalah Mas FIAN, seorang wartawan sebuah Mass Media Nasional dari Komunitas Loenpia-Semarang.

Pada awal cerita sudah ada pertanyaan pada pikiran saya, kenapa 4 malaikat itu bernama : “Djabralara, Makahala, Harasapala, dan Hadjarala” berlanjut setelah IBLIS bernama : “Smorobhumi atau Smorobhomo.” Lebih kaget lagi setelah ada satu adegan yang menyebutkan sebuah paragraf dengan kalimat aneh : “do tho gho bo so ko djo do lo ho djo do ngo ko po ho go ho go so to ……….”.
Saya memperkirakan bahwa skenario naskah pementasan ini sedikit-banyak mengambil dari “LAYANG DJOYOBOYO” yang pernah saya dapat dari seorang rekan di Negeri Belanda. Dia mengatakan bahwa huruf dan bahasa dari tulisan ini bernama : “Huruf NGAWI GHAIB dengan Bahasanya bernama HOSOKO DJOWO” berasal dari buku yang diketemukan di Gua Semangleng Gunung Pathok Kediri, yang konon katanya adalah tempat MUKSO nya Raja Agung Sri Djoyoboyo. Huruf ini diyakini berusia sangat tua, lebih tua dari huruf jawa kawi, sansekerta, palawa, china, jepang, thagalog, mesir kuno, sumerian, dan segala huruf yang ada di muka bumi ini. Entah benar tidaknya berita ini, harus ada pembuktian secara ilmu bahasa, arkheologi, dan juga dari segi keilmuan lainnya.
Sepertinya Film yang saya tonton bersama Goop dan Tika sebelum menonton Teater, inti jalan ceritanya tidaklah jauh berbeda. “The Hunting Party,” dibintangi oleh Richard Gere. Bercerita tentang seorang Jurnalis yang tersingkir karena terlalu menceritakan kebenaran dan akhirnya bisa menangkap seorang penjahat perang yang sangat dicari oleh dunia tetapi seolah para pencarinya sengaja untuk tidak menangkap penjahat tersebut.
Pada awal Film tersebut ada tulisan kurang lebih berbunyi : “…. kisah nyata pada filem ini terletak pada bagian yang terkonyol….”
Telah sekian lama kita telah dibodohi oleh pemikiran-pemikiran dan tingkah laku yang justru telah menenggelamkan manusia dalam penderitaan kehidupan dimuka bumi.
Oh iya…. setelah absen beberapa lama, akhirnya di akhir JUMINTEN kemaren kita bisa makan di warung BULAT (Bu Latifah) lagi.
Dan dihari minggu sebelum pulang ditemani oleh Adhit, saya berbelanja Cowek (ulekan) dan Kendi di Pasar Beringharjo pesanan Ibu dirumah. Sesaat sebelum meninggalkan pasar, kita makan Es Dawet. Seger tenannnn …… hausnya langsung hilang.
.::he509x™::.

10 Responses to “Ebliz dan IBLIS”
By
Epat on Aug 24, 2008 | Reply
keknya saya akrab dengan quote diatas itu deh
By
MaNongAn on Aug 25, 2008 | Reply
.::he509x::.
By
Goen on Aug 25, 2008 | Reply
ARGHHH!! Saya ga ikut…
By
bakulsapi on Aug 27, 2008 | Reply
hmmm…memang kadang terlintas pikiran sperti diatas kang..gusti allah kadang memang sering dianggep kurang adil sebagai maha adil..tapi kadang yang haram itu nikmat kang….ganja, ahhh….miras(buat sebagian orang itu nikmat)…bahkan swikee….
-ayo berburu swiiker..maen ke semarang. nanti saya ajak berburu rica2 biawak-
By
Ndoro Seten on Aug 28, 2008 | Reply
tapi jarene yang haram itu nikmatnya mung sesaat saja?
iyo po?
By
didut on Aug 29, 2008 | Reply
aku aja yg sering diinepi fian blm pernah diajak … Fian tiket!!! *summon fian*
By
sandal on Aug 29, 2008 | Reply
Ada yang nyebut itu sebagai aksara jawa nglegena atau aksara jawa telanjang. Aksara itu tidak butuh vokal untuk membuatnya bermakna.
By
iman on Sep 1, 2008 | Reply
ini seperti devil advocate’nya Keanu Reeves dan Al Pacino ya…
By
escoret on Sep 11, 2008 | Reply
huaaaaaaaaaaaaaaaa..aku ra nongton…..
bos,kok ratahu jumintenan..??
By
MaNongAn on Sep 13, 2008 | Reply
.::he509x™::.