Saturday, March 1st, 2008
Jum’at MidNite Tenguk-Tenguk
Tak Kenal, Maka Tak Sayang.
Demikian sebuah pepatah menyatakan. Begitu pula dengan kami para Bloger Yogyakarta yang bernaung dibawah Komunitas CahAndong. Kami menyadari sesadar-sadarnya, kami memperhatikan sehati-hatinya, serta kamipun menimbang setimbang-timbangannya *harah*.
Kemudian kami menelaah hal-hal yang tidak tersebut diatas tadi, maka memutuskan bahwa : Per hari jum’at tanggal 29 Februari 2008 kemaren ini, kami warga CahAndong memprakarsai kembali satu buah kegiatan guna mempererat tali silahturahmi serta untuk menambah wawasan para bloger Yogya pada khususnya, juga blogosphere pada umumnya. Kegiatan ini nantinya akan dilaksanakan secara rutin setiap jum’at malam / malam sabtu, berlokasi didepan Monumen Serangan Umum 1 Maret Yogyakarta (Utara-Timur perempatan Kantor Pos).

Prolog : Kisah seorang tokoh Kantung Semar yang sedang melancarkan Serangan Umum 1 Maret guna memperpanjang daftar Najis Tralala.
Kesamaan aksi, waktu, nama, dan tempat dengan hal-hal yang lain, itu memang kami sengaja agar pas serta marem dengan momentnya !!
Acara JUMINTEN ini terbuka bagi rekan-rekan atau teman-temannya atau saudara-saudaranya atau siapa saja yang ingin meramaikan suasana malam. Acara ini berlangsung dari jam 5 sore WICA until DROP !
PERHATIAN : bagi yang mempunya penyakit sering kebelakang, sebelumnya kami sarankan untuk meminum jamu atau obat Tahan Kebelakang agar tidak merusak hari dan masa-masa indah anda pada saat menikmati obrolan, guyonan, serta diskusi dengan kami.
Peserta JUMINTEN Pertama:

Berdiri : Goen, Amma, Momon, Tika, Sandalian.
Jongkok : Pangsit, Annot, Eko, MaNongAn, Zam, Anto, Leksa.
Keterangan :
- Kamera : Tidak Terkenal.
- Kepunyaan : Ekowanz Kassela.
- Edit by :Photoshop CS2
Kegiatan :
- Penantian rekan-rekan dibawah hujan gerimis.
- Menyantap jajanan pasar yang dibawa oleh Anto dan Amma.
- Menguntit.
- Foto Bareng dengan Zamode style.
- Makan di Angkringan Kandang Menjangan.
- Bubar.
Demikian pesan serta liputan singkat dari TKP.
10-10, 10-15, 10-24.
SEKIAN
10-100 (abis dapet 1GB dari Anto nih).
-MaNongAn-
.::he509x™::.
Posted in makan, nongkrong | 7 Comments »
Monday, February 25th, 2008

Sabtu 23 Februari kemarin saya dan beberapa rekan dari CahAndong melaksanakan 2 buah kegiatan yang sudah lama terjadwalkan. Yaitu : Mencoba Bus Trans Jogja dan Pergi ke SEKATEN.
Bus Trans Jogja
Sekitar jam 5 sore kami berkumpul di Bunderan UGM, tepatnya di Wedangan depan markas Menwa UGM. Yang berkumpul saat itu adalah : Saya, Zam, Anto, Pangsit, dan Goen. Setelah memarkirkan sepeda motor di RS. Panti Rapih, kamipun bergegas menuju Shelter/Halte Bus BTJ di depan Panti Rapih sisi Utara.
Saya mengira harga tiket adalah Rp. 3.000,- ternyata hari itu karcis/tiket masih seharga Rp. 1.000,-/orang (5th keatas). Kamipun lalu masuk kedalam kurungan halte yang sempit. Berhubung saat itu yang ada hanya kami berlima, jadi tidak terasa sempitnya. Tak berapa lama (sekitar 15 menit) BTJ pun datang. Whuaaah, ternyata penuh sesak oleh ibu-ibu dan anak-anak kecil yang saya berfikir mereka sedang “berwisata transportasi”. Karena tidak semua anggota tim yang bisa ikut, akhirnya kami memutuskan untuk naik BTJ selanjutnya.
Tak berapa lama mulai bertambah penumpang yang ingin menaiki bus ini, tempatpun bertambah sesak. Ada kejadian, beberapa kali mesin tiketnya rusak. Sehingga calon penumpang mamsuki area dengan melewati pintu cadangan.
Akhirnya bus keduapun datang, lagi-lagi penuh sesak dengan para ibu dan anak kecil. Tetapi kali ini kami berlima bisa masuk semuanya, dan dimulailah perjalanan pertama kali menaiki “Bus Trans Jogja”.
Berhubung diluar gelap, saya tidak tahu jalan mana saja yang kami lalui. Tahu-tahu kami sudah sampai didepan “Taman Pintar”, kamipun turun disana. Saat turun Mat “Zam” nDoyok menelpon posisi Leksa, Nico, dan mbak senja yang katanya sudah ada dilokasi sekaten. Ternyata mereka ada di alun-alun selatan, sedangkan tempat sekaten ada di alun-alun utara. Lalu kami menuju “Masjid Agung Kauman”, dan sebagian dari kami melaksanakan Sholat Maghrib dan Isya.
Dihalaman masjid ini mbak Cya “Fame” pyla bergabung. Dia juga memarkirkan kendaraannya di RS. Panti Rapih, tetapi dia naek bus biasa menuju malioboro. Dari malioboro dia ajlan kaki menuju masjid agung. Dia membawa oleh-oleh “Kerak Telor Khas Betawi”, kamipun beramai-ramai menyantap kerak telor tersebut.
Tak berapa lama Fah “Leksa” rizal datang bergabung, tapi anehnya dia datang sendiri tidak ditemani oleh Nico dan Mbak Senja. Ah ternyata mereka berdua sedang mengadakan sekatenan sendiri, dan Leksa sebagai orang ketiga mengalah mencari kelompok sekaten lain (kami).
SEKATEN

Setelah tidak ada penambahan anggota lagi, mulailah kami bergerak memasuki areal acara Pesta Rakyat (Sekaten). Keluar halaman Masjid Agung, kami dikenakan biaya Rp. 1.000,-/orang. Beberapa rekan sempat menanyakan “Mau beribadah (Sholat didalam Masjid) saja, kok harus bayar?”. Tetapi kemungkinan orang-orang pemungut “Pajak 1.000″ itu mengetahui tidak semua yang keluar dari Masjid itu sudah membayar tiket sekaten di pintu masuk utama. Maka mereka memungut biaya tersebut (jika bisa menunjukkan tiket masuk, tidak akan dikenakan biaya).
Memasuki area sekaten, kami langsung menuju penjaja mainan khas sekaten “Kapal Klotok”. Si Anto membeli sebuah karena dititipi oleh seseorang.
Suasana sangat ramai dan padat, kamipun menerobos dan akhirnya tiba didepan Stand Tong Setan. Kamipun membeli tiket dan menonton sebuah penampilan mengerikan dari seorang pengendara motor tanpa pelindung yang mengitari sebuah tong terbuat dari kayu.
Keluar dari sini turun hujan dan kami berlarian mencari tempat berteduh. Ternyata kami berteduh didepan Stand “Rumah Hantu”, jiwa nDoyok kamipun tertang untuk mencoba memasukinya. Formasi jalan beriringan : Saya, Goen, Leksa, Pangsit, Fame, Anto, dan Zam. Ah, ternyata hanya segitu saja. Bukannya membuat kami ketakutan, tetapi keluar dari stand ini kami malah tertawa terbahak-bahak.
Hal ini dikarenakan hanyu-hantunya tidak ada yang seram (hanya menang bau dupa yang menyengat). Si Zam gagal mengambil gambar karena hantunya ngumpet. Dan si Zam kehilangan hantu terakhir karena sang hantu meninggalkan posnya mengikuti kita ikut keluar arena (mungkin dia naksir Anto yg saat itu posisi paling belakang karena Zam tertinggal jauh).
Begitu keluar dari arena, hujan reda. Setelah berfoto-foto sejenak, kamipun melanjutkan perjalanan kembali. Melewati Stand sebuah kendaraan bermotor, disana ada seorang artis sedang mentunkan lagu dangdut. Kamipun berhenti dan menonton. Niat kami untuk mengikuti jogetan dan berfoto tidak terlaksana dikarenakan arena joget sudah penuh sedak. Kami berusaha menunggu lagu selanjutnya, tetapi lagunya tidak “Jogetistik & goyangable” akhirnya kamipun meninggalkan area tersebut.
Oh iya, sebelumnya kami melihat sebuah permainan entah apa namanya. Bentuknya bulat seperti komedi putar atau atap payung yang berisi bangku kayu yang melingkar. Para penumpang duduk berjejer tanpa ada pengaman yang melingkari tubuhnya (hanya bermodalkan berpegangan pada senderan bangku). Lalu beberapa orang lelaki memegangi bangku serta berlari semakin kencang memutar bangku tersebut sambil mereka beraktraksi mengoyang-goyangkan sehingga sambil berpegangan alakadarnya mereka ikut melayang mengikuti arah bangku tersebut. Suatu tindakan bodoh atau berani?
Akhirnya kami sampai di Stand “Kereta Kelinci”, sebelumnya kami membeli : kacang rebus dan arumanis. Kami berlima menaiki kereta kelinci, dan mendapatkan kenalan 2 orang gadis yang salah satunya ternyata satu jurusan dengan Goen di HI-UPN.
Setelah puas naik kereta kelinci, kami membeli “Tahu Pong” dan “Kue Bolang-Baling”. Selanjutnya kamipun menuju “Wedangan” untuk menyantap tahu dan kue yang kami beli tadi serta untuk memesan minuman serta menyantap Sego Kucing.
The End
Agak lama kami berada diwedangan, sambil ngobrol kami menunggu hujan agak reda. Ada hal yang menarik disini : “Ada seorang pemulung lewat, dan hebatnya …… dia menggunakan Bluetooth/Headseat ditelinganya” (kami kurang jelas apa sebenarnya ditelinganya dikarenakan agak gelap. Dia berhenti tidak jauh dari wedangan tempat kami nongkrong, sehingga kami bisa memantau gerak-gerik dia saat mengeluarkan sebuah HandPhone dan ngutak-ngatik (entah sedang SMS atau sedang mengganti lagu yg sedang didengarkan).
Setelah hujan sudah reda, kami bergegas pulang. Jalur yang kami lalui : alun-alun Utara, jl. malioboro, jl. mangkubumi, Tugu belok kanan (timur) melewati Jembatan Gondolayu, terus hingga perempatan Gramedia/kantor pos polantas/Kodim, Belok ke kiri (utara) Jl. Cik Ditiro. Sampai di pertigaan jl. kartini kami berhenti dan berunding akan melanjutkan kemana. Karena tidak ada titik temu, akhirnya saya mengajak mereka untuk ke kantor saya yang hanya berjarak kurang dari 100 meter. Disini sebagian dari kami melepaskan lelah dan sebagian begadang sampai pagi (termasuk saya).

Selama perjalanan tersebut kami sempat berhenti dan berfoto di :
- Depan Istana Kepresidenan
- Perempatan Jl. Pasar Kembang
- Tugu
- Burjo Gondolayu
- Patung Pak Wibawa (polisi)
Demikian liputan dan cerita kami dalam melaksanakan perjalanan SEKATEN di malam mingu. Apabila ada kekurangan saya mohon ma’af yang sebesar-besarnya.
Keterangan :
- Foto by : Anto, Zam, dan Feme; Edit Photoshop by : MaNongAn.
- Mengenai makna dan awal mula SEKATEN saya mempunyai pikiran untuk membahasnya dikemudian hari dengan membuat kategori/tag baru.
- Mengenai sekaten jalan kaki, ini merupakan kali kedua saya melakukannya. Yang pertama adalah disaat bersama rekan-rekan lesehan th 2005 silam menjamu saudara Didat Triyadi yg datang menyambangi kami.
Liputan terkait :
- Sekaten Malam Minggu
- Tong Setan
- ….
Posted in makan, nongkrong | 18 Comments »
Sunday, February 17th, 2008

Hari Kamis saat temu kangen dgn Ndoro Kakung, Momon dan Tika mengabarkan jika bu Drg.Evy hari sabtu pingin ketemu dengan kita-kita CahAndong/Bloger Yogya. Setelah konsolidasi dan konfirmasi melalui milis, maka hari sabtu 16 Februari 2008 maka kita bersama-sama menuju Hotel Mercure untuk bertemu Ibu Dokter.
Dikarenakan saat itu ada temen sesepuh MANONGAN-Tipes-Solo yg kebetulan berkunjung ke Yogya, maka pertemuan pertama dengan ibu dokter di Hotel tidak bisa terlaksana.
Sekitar jam sembilan malam dapat berita jika rekan-rekan sudah berada di Gudeg-Tugu. Maka setelah berpamitan dgn teman, saya meluncur ke tempat sasaran. Disana sudah berkumpul rekan-rekan dan sepertinya mereka sudah selesai menyantap makanan. Sedangkan saya, Tika, serta Iphan yang datang terlambat kemudian langsung memesan makanan pula. Disini kita tidak berlama-lama karena banyak pengunjung lain yang ingin makan, lalu kita beramai-ramai meluncur kembali ke Hotel.
Sampai Hotel, ternyata Ibu Dokter belum kembali dari Rumah Sakit (menemani ibunya yg sedang periksa mata). Dan kamipun mengobrol dengan mengambil ruang tengah, hal ini dikarenakan dekat dengan Lobby (kalau-kalau ibu dokter datang bisa langsung melihat kami), serta tempatnya yang agak luas serta nyaman.

Rekan-rekan yg hadir seingat saya saat itu adalah :
Saya, Zam, Momon, Tika, Iphan, ekowanz, Leksa, Goen, Pangsit, A-Bud, Alle, Manda, teman dari ID-Anime Agung, ….
Kemudian muncul Sandalian yg membawa serta Dubes CahAndong Biro Surabaya Sdri.Siwi.
(hayo absen sapa yg blom masuk ke daftar)
Sekitar jam 12 malam kurang Ibu DOkter belum kembali, kamipun memutuskan untuk pindah lokasi ke wedangan/Angkringan Tugu. Disana kita ngobral-ngobrol sampai sekitar jam 3 kurang.
Hari Minggu pagi dapat berita jika Ibu Dokter mau ketemu lagi dengan kita-kita (dikarenakan belum semua sempat bertatap muka). Sekitar jam 4 sore (bangun tidur) saya berangkat menuju Hotel Mercure. Syukurlah saat ini saya dan beberapa teman yg semalam datang dan belum bertatap muka dengan Ibu Dokter akhirnya bisa ketemu.

Disini kami yang hadir :
Saya, Momon, Tika, Iphan, Leksa, Dina, alle, Yanuar, Siwi, Sandalian, Joe, Gage (Bogor), Ancil (teman gage), Anto dan Bu guru Dina (teman Tika-Momon).
Disini kita ditraktir Pizza Hut (4 porsi) & Softdrink. Sambil menyatap makanan, kita bercerita dan tak lupa Siwi menjadi fotopgrapher dadakan karena dipinjemin kamera “Nikon-D80” milik Gage (bogor).
Sekitar jam setengah delapan malam kita meneruskan ke Wedangan/Angkringan Tugu. Sebetulnya Thomas Arie dan Lala Cinila akan ikut bergabung dengan kita, berhubung dia masih ada tugas dadakan yg harus diselesaikan dan juga dikarenakan di daerah bantul sana sedang hujan deras, maka mereka berdua TIDAK BERJODOH untuk kopdar bersama kita.
Disini kita tidak berlama-lama, karena anggota pasukan sangat minim untuk membuat total kerusakan. Selain itu sebetulnya kita sudah cukup membuat total kerusakan saat bertemu Bu Dokter Evy di Hotel Mercure tadi (elus-elus perut dan jenggot).
Demikianlah laporan kopdar bersama Bu Dokter Evy kemarin dan hari ini versi saya.
Ma’af saya tidak punya kamera, jadi gak bisa menampilkan screenshoot (kecuali rekan yg bawa saat itu ada yg rela menyumbang photo utk ditampilkan disini).
Keterangan :
- Gambar diambil dari : http://www.flickr.com/photos/sevenova
- Kamera : NIKON D80
- Kepunyaan : Gage Batubara
- Photographer : Siwi
- Editor : ACD FotoCanvas Lite V2.0 (Crop and plus high/contras Levels)
tambahan (edit by PhotoshopCS2) :

.::he509x™::.
Posted in makan, nongkrong | 25 Comments »
Saturday, February 9th, 2008
Jeng-Jeng Semarang Wayah’e Gerimis II
Sambungan dari Jeng Semawis I
Kuil Sam Pho Khong
Siang itu sekitar jam 11 siang kami masih berada didalam komplek “Pagoda Avalokitesvara Buddhagaya Watugong”. Hujan rintik-rintik dan hawa dingin membawa ingatan saya kembali ke kota Malang, tempat dimana saya dahulu berkuliah. Kabut tipis menyelimuti wilayah ini menghalangi pandangan mata ke arah kota Semarang. Dan secara keseluruhan, suasana saat itu sangat saya suka.
Kemudian HP salah satu rekan berdering mengabarkan rekan dari Loenpia sudah siap dengan armada satu mobil dan beberapa motor menunggu di Gombel. Lalu kamipun bergegas kembali ketempat parkir dan meninggalkan lokasi “Pagoda Avalokitesvara Buddhagaya Watugong”.
Sesampai di Puncak Gombel, kami bertemu dengan rekan-rekan Loenpia, dan kamipun langsung meluncur ke “Kuil Sam Pho Kong” (Laksamana Cheng Ho). Sesampainya disana cuaca masih belum bersahabat, hujan masih terus mengguyur membasahi tubuh kami.
Karena hal itulah kami tidak menemukan suatu hal yang sangat kami bayangkan sebelum memutuskan berangkat jeng-jeng (jalan-jalan ala Semarang) di hari IMLEK 2559 ke kota Semarang. Ya, kami membayangkan di Kuil Sam Pho Kong ini kami banyak melihat gadis-gadis Oriental yang berlalu-lalang didepan kami. Lalu kamipun bisa mengabadikan mereka lewat kamera-kamera yang sudah kami persiapkan.
Hari itu kami hanya melihat sekumpulan pengunjung yang sebagian besar berwajah “melayu”. Jarang kami melihat wajah “Oriental”, meskipun ada rata-rata adalah orang tua atau kurang sesuai dengan harapan. Akhirnya kami hanya berteduh dibawah aula berdesak-desakan karena lusnya tidak menampung jumlah pengunjung yang menghindari terpecik air hujan.
Disana saya sempat berkenalan dengan Kru TV7 yang akan meliput sebuah acara petualangan anak. Ceriteranya (sesuai skenario) adalah perjalanan 2 orang keturunan Tionghoa bersama rekan-rekannya pribumi asli dalam mengikuti sebuah group “Barongsai”. Tetapi menurut pengakuan mereka, saat ini sangat susah menemukan seorang anak keturunan Tionghoa yang mau mengikuti group Barongsai. Rata-rata anak yang mengikuti group barongsai adalah dari pribumi. Kemungkinan para orang tua dari keturunan tersebut takut jika si anak harus melakukan adegan-adegan berbahaya seperti membuat tumpukan hingga tinggi. Kebalikan dari para orang tua pribumi yang justru sangat bangga jika anaknya bisa melakukan loncatan/formasi yang berbahaya itu.
Disela-sela percakapan kami, Mat nDoyok sempat mengabadikan secercah sinar dilebatnya air hujan, yaitu wajah seorang gadis “Oriental Arabica” atau “Orientalis Padang Pasir”. Wajahnya yang imut menjadikan obyek pemuas dahaga pandangan seluruh pria dikomplek tersebut. “Duh Gusti…. Duh Pangeran…. Paringono Kulo BuHaji ingkang Keren”
Dikuil ini kami: saya, Mas Iman, Mat ndoyok, Antokondo, Leksa, Pangsit, dan Goen (saya lupa Abud saat itu ikut/tidak), menerobos serbuan air hujan bergerak menuju pintu masuk kuil.Ternyata selain orang yang akan bersembahyang, pengunjung dilarang masuk. Kami sempat berkoordinasi merencanakan si Goen untuk disusupkan kedalam kuil dan mengambil foto-foto seperlunya untuk oleh-oleh kita. Entah karena apa, rencana tersebut gagal dilaksanakan. Akhirnya kami kembali ketempat semula, disana salah satu APEL (sebutan wanita warga loenpia) mbak Niea datang bersama 2 makhluk kecil yang imut-imut (aduh,
adeknya yang perempuan kok maluw-maluw chiwww).
Lunch

Gambar dicomot dari punyanya Mbak Fany
Karena kehujanan dan hawa dingin yang menyengat, kamipun sukses dalam hal melaparkan diri (sarapan bubur pak brwok tadi pagi kurang mengenyangkan perut kita). Lalu kamipun berangkat menuju tempat makan di daerah ? Disini Mbak Ninings warga loenpia dari jepara ikut bergabung.
Lawang Sewoe
Selesai makan siang, kami berangkat menuju “Lawang Sewu”. Dini lagi-lagi kami bertemu dengan rombongan “Gadis Oriental Padang Pasir”. Tetapi kali ini mereka sudah siap-siang membubarkan diri, sedangkan kami baru saja masuk ke kawasan ini. Memasuki kawasan ini kami dikenakan biaya Rp.5000,-/orang. Sekitar sembilan belas orang kami mulai memasuki dan menelusuri Lawang Sewu. Dan inilah laporan berupa Filem yang diabadikan oleh rekan dari loenpia.
Lawang Sewu from ariwibowo on Vimeo.
Back to nDoyokarto
Sekitar jam 16:00 kurang, kami keluar dari kawasan “Lawang Sewu” dan meluncur kembali menuju rumah Mas Didut. Hujan semakin deras, dan kamipun bersiap-siap untuk kembali ke kota kami nDoyokarto Hadiningrat. Karena derasnya air yg mengguyur bumi, kamipun bersepakat untuk menyewa mobil yang kami pakai untuk berkeliling kota semarang untuk mengantarkan kami kembali ke Yogya. Setelah ada kesepakan antara Sopir, Mas Iman, dan Kang Didut, sekitar jam 5 sore kamipun kembali ke Yogya.
Sekiranya ucapan terimakasih saja sangat kurang jika diberikan kepada rekan-rekan dari “Loenpia” atas sambutannya. Salut atas perjuangan dan kekompakan rekan-rekan Loenpia dalam menjebol barikade hujan agar kami “CahAndong plus Mas Iman” bisa menikmati jeng-jeng (jalan-jalan ala Semarang) di hari IMLEK 2559 di kota Semarang. Di dalam hati diri kami masing-masing berjanji untuk bisa membalas budi baik mereka jika datang ke kota kami (Insya Allah).
Didalam perjalanan tak henti kami membahas perjalanan kami hari itu, tidak lupa kami membumbuinya dengan cerita-cerita mengenai junjungan kami dari Tanah Soeci Soerabja Soemoekpoel. Disekitar daerah Bawen Magelang sebagian dari kami terserang HIV (Hasrat Ingin Vivis) dan terpaksa mobil berhenti sejenak untuk sekedar melepas hasrat dan lelah.
Saat itulah ternyata Goen lagi-lagi menembakkan amunisi setelah yang pertama kali dia juga menembakkan amunisi sesaat turun dari Bis di dekat Graha Pena kemaren. Barulah kita tahu, ternyata dia tidak tahan menaiki kendaraan Roda Empat/lebih.
Perjalanan dilanjutkan kembali, akhirnya sekitar jam 7 malam sampailah kami di Terminal Jombor. Sebagian rekan turun disini karena kendaraan motor mereka titipkan dalam terminal. Sedangkan saya nebeng mobil mengantarkan Mas Iman menuju “Wisma MM-UGM-Sagan”. Setelah selsai mengantarkan Mas Iman, saya kebagian terakhir diantar sampai kantor.
Tamu, Utusan dan Jamuan Makan
Setelah mandi, saya santai-santai menjumpai dan mengencani “Pacar kedua” sambil menunggu panggilan dari Mat nDoyok untuk acara selanjutnya. Sekitar jam sembilan malam, Sultan nDoyok mengabarkan bahwa Mas Intan sudah siap berburu dan mengomando saya agar merapat ke Wisma. Bersama “Pacar Baru” yang belum lengkap berbusana itu saya meluncur ke TKP, disana sudah ada anggota yaitu : Zam, Anto, Goen, dan Ekowanz. Setelah itu menyusul Momon, Tika, dan kawan-kawannya.
Sempat bingung mau diajak kemana Mas Iman untuk makan malam, akhirnya diputuskan untuk makan malam di “Gudeg Mirota Gejayan”. Kamipun meluncur, dan saya sempat menghubungi mbak Amma bahwa kita ngumul disana.
Sampai disana kami langsung menyantap makanan sambil menunggu kedatangan seorang utusan dari “Tanah Soeci Soerabaija Soemoekpoel” saudara cempluk. Ternyata kedatangannya juga membawa sebuah titipan “Prasasti” pemberian langsung dari “Baginda Siapapun Tahu Siapa Dia Yang Tidak Bisa Disebutkan Namanya Itu”.
Bungah, senang, haru, berkecamuk menjadi satu didalam hati seluruh wadyabala nDoyokarto Hadiningrat yang tidak mengira dan tidak menduga telah mendapatkan berkah berupa “Prasasti” yang didalamnya terdapat Ayat khusus dan juga tandatangan ASLI dari Sri Baginda Siapapun Tahu Siapa Dia Yang Tidak Bisa Disebutkan Namanya Itu.
Setelah mendapatkan titipan wejangan tambahan, makan-makan, dan perkenalan serta hari sudah menginjak malam hari, kamipun bersepakat untuk membubarkan diri.
Sekian Laporan saya mengenai Jeng Semawis = Jeng-Jeng Neng Semarang ing Wayah Gerimis. Bila ada kata-kata atau kalimat yang kurang dalam tata penulisan/tempat atau yang menyinggung perasaan, saya menghaturkan ma’af yang sebesar-besarnya.
Tak lupa saya mengucapkan banyak terimakasih kepada Jeruk dan Apel Loenpia yang sudah menjamu kami dengan baik meski sedikit terhalang oleh badai hujan yang tiada hentinya.
Warga Loenpia yg hadir :
- Didut
- Fian
- Pepeng
- hyudee
- Munif
- Ariwibowo
- Lowo
- Budiyono
- Fany
- Niea
- Ninings
- siapa lagi yah….
Laporan Lain :
-MaNongAn-
090208
.::he509x™::.
Posted in makan, ngantuk, nongkrong | 15 Comments »
Saturday, February 9th, 2008
Jeng-Jeng Semarang Wayah’e Gerimis

Gambar di comot dari Goen
Perjalanan
“Aduh kok sepi banget, yg laen pada kemana nih?”
“Katanya pada mo ngumpul jam 3 sore, sekarang udah lebih tapi blom ada yg dateng juga.”
Dengan rasa gelisah, Mr. Abud lalu mengeluarkan PDA nya dan posting ke millis.
“Gw udah di terminal tapi yang laen belum keliatan, apa gw salah jam?”
Tak lama kemudian ada balasan dari Menpenak :
“sepertinya anda harus meneliti kembali postingan Mr. Menkopul, jelas-jelas disana tertulis jam 15:00 CA.”
(CA yg di maksud adalah WICA = Waktu Indonesia Bagian CahAndong)
Selanjutnya, susul-menyusul balesan dari rekan-rekan lainnya.
Tidak disangka, sekitar jam 4 sore tumpahlan air dari atas langit disertai angin kencang beserta kilat meliuk-liuk bagaikan sang naga sedang mencari mangsa.
Saya sendiri sempat ragu untuk berangkat, tetapi sekitar jam 5 sore akhirnya cuaca cerah kembali. Kemudian saya menelpon Menkopul menanyakan kepastian keberangkatan.
Me : “Udah pada dimana nih?”
Menkopul : “OTW (on The Way) ke terminal Kang”
Me : “OK, aku beresin berkas-berkas kerjaan dulu, terus langsung meluncur ke TKP (Tempat kejadian Perkara)”
Setelah berkas sudah rapih lalu saya sempatkan mandi, karena seharian hawanya gerah sekali. Kemudian saya telpon Taxi untuk minta dijemput. Sekitar 5 menit menunggu akhirnya Taxi pun datang, dan saya langsung berangkat ke terminal jombor. Sekitar JAKAL (Jalan Kaliurang) Sultan nDoyok menelpon lagi.
Mat nDoyok : “wes tekan ngendi kang?” (sudah sampai mana Kang?)
Me : “wes tekan jakal, cah-cah wes podo ngelumpuk?” (sudah sampai jakal, temen-temen sudah pada ngumpul?)
Mat nDoyok : “iki cah-cah wes ngelumpuk. Bus’e wes meh mangkat” (ini temen-temen sudah ngumpul. Bisnya sudah mau berangkat)
Me : “Kongkon ngenteni disik, dhiluk engkas aku tekan” (suruh nunggu dulu, sebentar lagi saya sampai)
Mat nDoyok : “OK Kang, mengko supir’e tak kongkon ngenteni.” (OK Kang, nanti supirnya saya suruh nunggu)
Me : “posisi neng njhero terminal opo neng jobo?” (posisi ada di dalam terminal atau di luar ?)
Mat nDoyok : “Neng jobo Kang, neng pinggir dalan cedak pintu keluar.” (di luar Kang, di pinggir jalan dekat pintu keluar terminal)
Me : “OK, enteni disik” (OK, tunggu sebentar)
Keterangan : sudah menjadi Rahasia Umum, jika Mat nDoyok sebagai Sultan nDoyokarto Hadiningrat ini tidak bisa berbicara dalam bahasa Indonesia dengan lancar. Jadi saya memakai bahasa Jawa didalam percakapan kami tersebut.
Tak berapa lama sampailah saya diterminal, disana para Eblis sudah pada menunggu : “Mat nDoyok, Antokondo, Leksa, Pangsit, Abud, dan Goen“. Gak pake lama, lalu bus pun berangkat. Ternyata bus terakhir langsung Semarang sudah habis, jadi kami naik bus jurusan Magelang. Sekitar setengah jam kami sampai diterminal, lalu sambung bus jurusan Semarang. Ternyata parkirnya lama sekali, sekitar satu jam-an menunggu penumpang lain.
Susul menyusul pedagang asongan naik menawarkan barang dagangannya, ada yg sedikit memaksa tetapi sebagian besar tidak seperti itu. Yang menarik adalah para musisi jalanan, sambung menyambung tidak ada berentinya hingga setok uang receh yang kami bawa pun sampai habis. Dan hebatnya lagi, semua peralatan yang dipakai persis itu-itu juga.
Akhirnya sampai juga di kota Semarang. Sayangnya kok hujan deres yah? *garuk²*
Mat nDoyok koordinasi dengan Bang Vian mau jemput dimana. Kamipun turun di POM Bensin (ma’af lupa namanya, antara Gedung Graha Pena dan Gombel). Sambil berteduh dibawah bengkel tambal ban yg tutup, kami menunggu jemputan. Tidak berapa lama Bang Vian datang membawa motor dan mengajak kami Dinner di warung Mie Ayam.
Setelah perut kami terisi, kami jalan kaki menuju Stand Plat (bahasa indonesianya apa yah?). Tak lama kemudian datang serombongan serigala jeruk Loenpia (sebutan warga Loenpia yg berjenis kelamin Pria/setengahnya) menjemput kami. Lalu kami diboncengi menuju belakang GOMBEL (Fanny Coutage). Disana kami berhenti dirumahnya Kang Didut.
Disana ada beberapa rekan Jeruk Loenpia lain yang sudah menunggu. Setelah basa-basi perkenalan dan saling mengucapkan salam, kamipun ngobrol tak tentu arah. Sekitar jam 12 malam rekan-rekan lain sudah pada tidur, yang tersisa menemani saya ngobrol sampai subuh adalah : Bang Vian, Bang Yudhi dan rekan andong si Leksa.
Kami membahas banyak permasalahan dan pengalaman-pengalaman pribadi kami. Poin terpenting pembahasan permasalahannya kami itu adalah :
- Tanggung Jawab isi Penulisan. Hal ini dikarenakan ada seorang Murid SD yang mendapatkan tugas mencari bahan tentang “Bhinneka Tunggal Ika” yang dilansir oleh harian “Suara Merdeka”. Kasusnya adalah, anak tersebut mengkopi tulisan dari internet mengenai Bhinneka Tunggal Ika yang ternyata dipelesetkan.
- Perjalanan Tim Betmen Loenpia diceritakan oleh Bang Vian yang mendapatkan gambar Pocong.
- Pertamakali Bang Yudhi menekuni bidang photographi.
- Penyebutan Jeruk (laki-laki) dan Apel (wanita) untuk warga Loenpia.
- Cerita millis Loenpia yang heboh ketimbang bLog warganya.
- dll
Sekitar setengah atau satu jam saya istirahat (tidur) dan kami bergantian mandi sambil menunggu kedatangan Mas Iman Brotoseno yang meluncur dari Ibukota “Jancukarta Ngadikere“. Ternyata ada kabar, Simanis Banjir Kanal Timur Kaligawe tidak bisa menjemput Mas Iman dikarenakan akses jalan keluar dari rumahnya menuju bandara terkepung banjir. Lalu Mbak Fany dan Kang Didut menelepon Mobil Rental untuk menjemput Mas Iman dari Bandara. Oh iya, semenjak kami datang hingga pagi hari itu cuaca agak tidak bersahabat alias turun hujan terus menerus.
“Pagoda Avalokitesvara Buddhagaya Watugong”
Setelah Mas Iman sampai, kami warga andong plus Bang Vian sebagai penunjuk jalan meluncur menuju sebuah Pagoda pemujaan Dewi Kwan Im di daerah Watu Gong (disini ditemukan sebuah batu yg mirip dengan Gong). Dinamakan juga “Pagoda Metta Karuna” yang berarti “Kasih Sayang”. Disana kami mengabadikan beberapa tempat dan patung. Sebelum itu kami sarapan di “Bubur Ayam Pak Brewok” sekitar kawasan UNDIP. Btw, mbak penjual rokok dibelakang kios Pak Brewok ternyata manis juga. Sempet megang tangannya sebentar sewaktu menyerahkan rokok kesaya sampai rokoknya jatuh. Tapi, saat menyerahkan rokok kedua kalinya sempet megang lagi (kali ini tidak pake jatuh lagi, mungkin sudah terbiasa dari pengalaman pertama tadi). Ternyata mbak satunya yg berjilbab dan sedang makan itu melihat, tapi cuma senyam-senyum ajah.
Dipintu masuk dekat Pos Penjagaan, terletak batu berbentuk mirip Gong, yang dipakai sebutan daerah tersebut (Watu Gong).
Memasuki area, ada Patung Dewi Kwan Im setinggi 5,10 meter dan Patung Panglima Weng Do. Disebelah kanannya ada Patung Budha dibawah Pohon Bodhi yang konon generasi asli pohon Bodhi dimana Sang Budha pernah bertapa dibawahnya. Pohon ini dibawa dan ditanam oleh “Bikku Narada Mahathera” dari Thailand pada tahun 1934.
Menuju Pagoda saya terkesima dengan tangga unik bergaya serta berasitektur China yang konon semua bahannya tersebut mengimpor langsung dari Negeri China. Hingga sampailah di Pagoda yang berdiameter 15×15 meter persegi itu. Disisi Luar, terdapat Patung Dewi Kwan Im dalam beberapa posisi/perwujudan menghadap kesegala penjuru mata angin. Disela melihat patung tersebut saya bertanya kepada bapak penjaga kuil apa maksud patung-patung yg ada disekeliling kuil utama. Lalu dengan antusiasnya bapak tersebut menerangkan satu persatu arti dari patung-patung tersebut secara singkat :
- Patung Dewi Kwan Im membawa Bunga dan Teratai :
Bermakna, perjodohan. Tetapi berjodoh yg dimaksud disini dalam arti luas.
- Patung Dewi Kwan Im membawa seorang anak perempuan :
Bermakna, menginginkan anak perempuan.
- Patung Panglima (Patung salah satu perwujudan Dewi Kwan Im?) :
Bermakna, kepangkatan. Jika menginginkan jabatan, pangkat dan kewibawaan.
- Patung Dewi Kwan Im membawa Seorang anak laki-laki :
Bermakna, menginginkan anak laki-laki.
- Patung Dewi Kwan Im Membawa Bunga….? :
Bermakna, menginginkan panjang umur.

Gambar di ambil dari : Fiandigital
Pagoda tersebut berisi patung-patung Dewi Kwan Im yang bermakna “Welas Asih / Kasih Sayang” menghadap ke kota Semarang. Hal ini mempunyai makna agar kota Semarang terbebas dari segala macam marabahaya serta bencana. Patung Panglima “Weng Do” yang bertujuan sebagai Pelindung Keselamatan sekaligus penjaga Kuil / Pagoda tersebut. Pagoda ini bersusun 7 tingkat yang artinya “Budha yang sudah mencapai Tingkat Kesucian Tertinggi”. Tinggi Pagoda 45 meter, yang artinya “4+5=9, dimana angka sembilan nilai tertinggi dan menunjukkan keberuntungan dan prestasi tertinggi”. Pagoda ini adalah Pagoda tertinggi di Indonesia.
Setelah itu kami bergeser kesebelah disebuah Vihara kecil yang terdapat Patung Budha dan didirikan sekitar tahun 1957. Disekeliling pagar ada beberapa relief yang menggambarkan : Kontak Hati, Nafsu Makan, Kelahiran, Orang Tua, Tua dan Mati (Saya tidak melihat semua ornamen/relief yang digambarkan dipagar mengelilingi Vihara ini).

bersambung……
.::he509x™::.
Posted in makan, ngantuk, nongkrong | 8 Comments »